Komersialisasikan Kampus, UGM Jadi 'Universitas Gila Money'
Sabtu, 18 Des 2004 14:38 WIB
Yogya -
Penolakan atas komersialisasi kampus terus disuarakan mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM). Sabtu (18/12/2004) menyambut Dies Natalis UGM ke-55, aksi protes atas komersialisasi kampus kembali digelar. Aksi digelar sekitar 20 mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UGM sekitar pukul 10.30 WIB. Namun belum sampai menuju Balairung di Gedung Pusat UGM, mereka dihadang satu regu satpam UGM.Massa pun akhirnya hanya menggelar orasi di dekat tangga Balairung di hadapan satpam yang ketat melakukan penjagaan. Meski mahasiswa meminta izin masuk, pihak keamanan UGM tidak memperbolehkan massa memasuki Gedung Pusat. Alasannya, di Balairung baru dilakukan persiapan pemasangan tenda dan perlengkapan pertunjukkan wayang kulit nanti malam.Saat menggelar aksi mahasiswa membawa sebuah keranda mayat ditutup kain warna hijau bertuliskan "kematian UGM." Selain itu ada beberapa poster yang dibawa bertuliskan "tolak komersialisasi, "UGM = Universitas Gila Money" dan "Jangan Jadikan UGM Ajang Kapitalisasi Pendidikan."Salah seorang koordinator aksi Ahmad Sisik Pramono dalam orasinya mengecam berbagai kebijakan UGM dibawah Rektor Prof Dr Sofian Effendi yang hanya berorientasi pada politik mercusuar sehingga sudah bukan lagi sebagai kampus kerakyatan.Kebijakan yang diambil Sofian hanya tampak bagus dari luar saja. Sedangkan dari dalam penuh kebobrokan. "Itu harus di tolak karena itu bohong dan hanya retorika rektor saja dan mahasiswa hanya akan menjadi sapi perah rektor saja," kata Sidik.Menurut Sidik, biaya pendidikan di UGM yang mahal saat ini berarti hilangnya kesempatan rakyat kecil seperti anak buruh, tani, nelayan miskin untuk dapat mengenyam pendidikan di UGM. "Status UGM sebagai perguruan tinggi BHMN itu semakin memperjelas status UGM yang hanya memfasilitasi orang-orang yang punya uang untuk dapat masuk diUGM," katanya.Dalam tuntutannya mereka menuntut agar UGM kembali sebagai institusi yang bisa diakses oleh seluruh rakyat Indonesia, bukan sebagai komoditas pendidikan saja. Meminta dihapuskannya kebijakan-kebijakan UGM yang tidak memihak rakyat. Serta menyerukan kepada civitas akademik UGM untuk ikut mendorong pemerintahan SBY merealisasikan anggara pendidikan 20 persen.Usai menggelar aksi di depan Gedung Pusat, massa kemudian melanjutkan aksi menuju Bunderan kampus UGM untuk melakukan hapning art pembakaran keranda mayat.
(iy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































