"Saya rasa dari awal harusnya kesiapan mental itu yang disiapin. Bukan malah sebaliknya kumpulin duit dibanyakin, tapi enggak bisa berpikir positif," ujar Nurhayati di Gedung DPR, Rabu (14/5).
Menurut Anggota Komisi I DPR itu, menjadi caleg memikul beban berat. Selain harus mendapatkan kepercayaan publik, tugas serta kinerja caleg itu adalah sebagai pengawas eksekutif.
Namun, sejauh ini, kata dia, banyak caleg salah kaprah karena beranggapan bekerja sebagai anggota dewan untuk memperkaya diri bukan menjaga amanat masyarakat. Harapan yang terlalu tinggi dan sudah terlanjur mengeluarkan biaya besar malah membuat caleg tertekan kalau tidak lolos.
"Kalau niat sudah salah bagaimana jalaninnya? Cari duit buat kampanye dengan segala cara kayak ngutang. Tapi, terus gagal. Enggak heran pikirannya jadi negatif," sebut politisi yang juga menjabat Ketua Fraksi Demokrat di DPR itu.
Usai pergelaran Pileg, 9 April lalu, sejumlah caleg yang gagal menjadi stres dengan kehilangan kewarasan sehingga harus masuk rumah sakit jiwa atau pondok pesantren untuk diterapi kejiwaannya. Selain itu, karena gagal, ada juga caleg yang berniat menjual ginjalnya untuk menutupi hutang ratusan juta rupiah yang dipakai saat sosialisasi kampanye.
(hat/trq)











































