Ucapan Agung itu ternyata terbukti karena ada pemotor yang melawan arus dan tertabrak mobil. Pemotor itu tewas di tempat. Agung pun teringat kembali berbagai peristiwa kecelakaan yang membuatnya menitikan air mata.
"Kadang dalam kondisi maksimal pun saya bisa meneteskan air mata melihat peristiwa seperti ini karena kita berupaya menyelamatkan nyawa orang. Ini lebih berharga dari materi," kata Agung saat berbincang dengan detikcom, Rabu (14/5/2014).
Tingkah para pemotor yang melawan arus atau pengendara mobil yang menerobos lampu merah tak sedikit yang berujung kecelakaan. Agung pun mengingatkan agar pengendara tetap mematuhi rambu untuk keselamatan, bukan karena ada polisi.
"Jangan sampai 'ah tidak ada polisi' lalu melanggar, kan ada malaikat. Kalau ada malaikat itu hilang nyawa kita. Sampai ada yang saya di TKP itu korban luka parah, dan saat dilarikan ke rumah sakit saya bilang ikhlaskan," ujar Agung.
Tak sedikit pengendara yang selalu berupaya cepat sampai tujuan walau melanggar lalu lintas dan membahayakan pengendara lainnya. Agung mencatat, di wilayahnya saja terjadi 1.000 lebih kasus kecelakaan sepanjang 2013.
"Antara volume kendaraan dan jalan ini tak seimbang, itu penelitian 2003, jadi ada titik stuck. Sehingga pengguna jalan ini memanfaatkan badan jalan yang dilarang, rambu jalan dilanggar. Lalin di Jakarta ini perlu kesadaran bersama, bukan hanya polisi saja, pemangku jalan raya juga harus cepat, setiap hari di Jakarta 3-4 orang meninggal dunia," kata Agung.
"Saya tahu persis dan berupaya mengurangi angka kecelakaan ini, tapi tetap, kita melihat kecelakaan itu musibah yang diingatkan sama Ilahi," tambah Agung mengakhiri kisahnya.
(vid/asp)










































