Rendahnya sentimen publik ini memunculkan tingginya angka massa mengambang. Dalam catatan Lembaga Survei Indonesia saat ini ada 40 persen pemilih yang ragu-ragu menentukan pilihan. Jika ingin memenangkan pilpres, tim sukses capres dan cawapres harus bisa mengambil pemilih dari massa mengambang ini.
“Siapapun yang ingin mengambil mayoritas suara mengambang tak bisa hanya mengandalkan mesin partai,” kata peneliti LSI Adjie Alfaraby melalui keterangan tertulis yang dikutip detikcom, Rabu (14/5/2014).
Apabila hanya mengandalkan mesin politik menurut Adjie pasangan capres dan cawapres akan sulit untuk mendapatkan dukungan publik. “Pemilu presiden kali ini justru harus lebih melibatkan civil society dan people power untuk memobilisasi dukungan,” papar Adjie.
Menurut dia, pada Pilpres tahun ini massa mengambang merata di semua segmen. Namun lebih banyak terjadi di pemilih perempuan, pendidikan dan ekonomi rendah, serta pedesaan. Ini adalah segmen yang kurang aktif dalam politik praktis karena akses terhadap informasi yang terbatas.
Sementara dari sisi agama, segmen yang paling banyak ragu dan mengambang justru berasal dari kalangan muslim. Para calon pemilih muslim umumnya ragu untuk memilih pemimpin yang dianggap sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan mereka.
(erd/vid)










































