Menanti Twitwar Bermutu dari Tim Sukses Capres, Bukan Isu SARA yang Dijual

Menanti Twitwar Bermutu dari Tim Sukses Capres, Bukan Isu SARA yang Dijual

- detikNews
Rabu, 14 Mei 2014 07:01 WIB
Menanti Twitwar Bermutu dari Tim Sukses Capres, Bukan Isu SARA yang Dijual
Jakarta - Media sosial menjadi salah satu tempat pertarungan ide, gagasan, dan pemikiran bagi tim sukses Capres-Cawapres yang bertarung di Pilpres 2014. Jangan heran kalau menjelang hari H, akan banyak politisi yang melakukan perang argumen.

Kalau di media sosial twitter, perang argumen ini disebut dengan twitwar. Nantinya, kalau kita mengikuti akun twitter para politisi, twitwar ini akan sering kita pantau dan tonton.

Sebenarnya twitwar sudah mulai terjadi setelah Pileg berlangsung. Di twitter mulai memanas isu saling serang antar kandidat Capres, walau berlangsung sporadis karena peta koalisi belum terlihat jelas.

Tapi sayangnya, isu-isu yang dikeluarkan masih isu murahan yang menyerempet fitnah dan SARA. Isu ini amat tak seksi bagi kalangan terdidik di media sosial. Bahkan ujung-ujungnya si penggelontor isu kena cap negatif.

"Isu SARA amat tak bermutu, ketahuan sekali yang membuat isu itu tak percaya diri dengan program visi dan misi calonnya. Janganlah pakai black campaign dengan isu SARA," terang aktivis antikorupsi Emerson Yuntho yang juga aktif di twitter ini saat berbincang, Rabu (14/5/2014).

Ranah twitter diprediksi akan semakin bergemuruh ke depannya. Ketika koalisi semakin jelas, siapa berkawan dengan siapa maka, kubu-kubuan semakin tak terhindarkan di twitter. Bisa terjadi twitwar massal yang melibatkan sejumlah politisi, pendukung, simpatisan, atau juga mereka yang mengkritisi para calon.

"Harus diwacanakan kampanye sehat, ini pendidikan juga untuk para pemilih muda yang mendominasi di media sosial. Beri mereka pencerahan dan cara berpolitik yang santun dan baik," saran Emerson.

Tentunya soal twitwar ini semua kembali kepada tim sukses masing-masing. Yang merisaukan bila para tim sukses menggunakan akun pseudonim yang tak jelas identitasnya, yang asal fitnah dan main data palsu.

Tapi semoga saja segala praktik kampanye yang tak mendidik tak terjadi. Para politisi dan tim sukses, sadar untuk meraih kekuasaan tak perlu menghalalkan segala cara. Yang utama memberi contoh yang baik pada generasi muda.


(ndr/vid)


Berita Terkait