Modus skimming bukanlah kejahatan pertama yang terjadi di Indonesia. Modus serupa pernah terungkap 2010 lalu di Bali. Teranyar adalah pengungkapan skimming yang dilakukan 21 warga negara Malaysia, awal Maret 2014.
Untuk kasus yang diduga dialami Bank Mandiri, pelaku membobol data dari beberapa negara. "(Dilakukan) dari beberapa negara, termasuk Kanada dan Malaysia," kata salah seorang penyidik di Barekskrim Polri, saat berbincang dengan detikcom, Selasa (13/5/2014).
Namun, hingga saat ini pihak bank belum melaporkan adanya indikasi pembobolan oleh pelaku kejahatan tersebut. "Belum ada laporan soal itu," kata penyidik tersebut.
Sementara itu, Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Perbankan Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dit Tipid Eksus) Kombes Umar Sahid mengatakan, sejauh ini pihaknya masih melakukan koordinasi dengan pihak perbankan dari Bank Mandiri.
"Anggota di lapangan masih berkoordinasi dengan Bank Mandiri," kata Umar dihubungi terpisah.
Senior Vice President Corporate Secretary Group Bank Mandiri Nixon LP Napitupulu, Senin (12/5/2014) kemarin, menyebut pihaknya mendapatkan adanya informasi ancaman penyalahgunaan kartu ATM sejumlah nasabahnya.
"Kami mendapatkan informasi dari bank lain, ada modus penyalahgunaan. Kami periksa dengan masukan-masukan yang ada dan kita ambil tindakan 1-2 hari yang lalu, untuk memblokir rekening yang berisiko akan terkena penyalahgunaan tersebut," ujar Nixon.
Nixon mengatakan, pemblokiran ini merupakan langkah preventif atau pencegahan Bank Mandiri, sehingga tidak ada nasabah yang dibobol rekeningnya dengan modus menduplikasi kartu ATM.
"Pemilik kartu ATM yang diblokir tinggal datang ke kantor cabang bersangkutan untuk diganti kartunya. Uangnya tidak hilang. Kami hanya mencegah kartunya diduplikasi. Ini hanya diblokir sebagai inisiatif Bank Mandiri untuk perlindungan nasabah," jelas Nixon.
"Jadi kami minta nasabah untuk datang ke cabang menukar kartunya, gratis," ucap Nixon.
(ahy/nrl)











































