Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi melihat, kedatangan Prabowo ke Istana nanti sore bukan tanpa kepentingan. Menurutnya, kedatangan Prabowo mengandung pesan politik yang kuat. Bahwa kedatangan capres Gerindra itu tentu karena diajak oleh Hatta yang memanfaatkan momentum pertemuannya dengan SBY sebagai medium politik.
"Tentu ada faktor Hatta Rajasa sebagai besan," ujar Ari saat berbincang dengan detikcom, Selasa (13/5/2014).
Menurut Ari, peluang SBY untuk membentuk poros koalisi ke tiga tetap ada. Namun dari dinamika politik yang berkembang saat ini, SBY diyakini akan lebih memilih di antara dua kutub, yakni antara poros Jokowi atau poros Prabowo, daripada membentuk poros baru.
Perolehan suara Partai Demokrat dalam pemilihan legislatif sebesar 10 persen ditambah tak ada satupun peserta konvensi capres Partai Demokrat yang memiliki elektabilitas tinggi, memposisikan partai berlambang bintang mercy ini dalam posisi terjepit dan sulit bergerak.
Ari mengatakan, elektabilitas Dahlan Iskan dan Anies Baswedan berdasarkan survei internal memang tinggi. Namun dalam politik pragmatis, kata dia, ada kepentingan politik yang diperjuangkan. SBY menurutnya, akan lebih nyaman jika Pramono Edhie yang disorongkan menjadi capres Demokrat, atau masuk dalam gerbong koalisi. Namun elektabilitas Pramono sulit diterima publik.
Koalisi mana yang dipilih, kata Ari, tergantung koalisi mana yang dapat mengakomodir kepentingan SBY dan Demokrat.
"Tentunya SBY akan lebih melihat peluang koalisi, daripada membuat poros baru. Pertemuan dengan Jokowi dan Prabowo siang ini menjadi momentum, SBY akan lebih memilih yang kemungkian besar menang. Ada faktor Ibas juga, ada akomodasi politik dari koalisi yang menang. Dari situ SBY akan memilih ke mana Demokrat berlabuh," pungkas Ari.
(rmd/van)










































