"Untuk mengatakan darurat itu ada persyaratannya. Yang jelas kita siap siaga Jangan sampai ada kejadian sama di tempat lain," ujar Aher.
Hal itu diungkapkan Aher saat ditemui di Hotel Aston, Senin (12/5/2014).
Ia meminta agar masyarakat siaga dengan menjaga menjaga-anak-anaknya dengan baik. "Orangtua siaga, hati-hati dengan anak. Anak jangan dilepas. Kita tidak tahu seperti apa perkembangann di luar. Tindakan anak di rumah, orangtua full mengawasi. Ketika di sekolah, guru wajib mengawasi," katanya.
Aher mengatakan kejahatan seksual seperti yang terjadi di Sukabumi itu termasuk tertutup. Sehingga memerlukan langkah antisipatif.
"Bukan terbuka seperti geng motor atau perkelahian antar pelajar. Kalo ini tahu-tahu ada korban. Maka harus antisipasi, jangan terjadi lagi," tutur Aher.
Pemberitaan juga menurutnya jangan terlalu membesar-besarkan dengan menyebut korban yang mencapai lebih dari 100 anak.
"Kan katanya yang disodomi hanya 8 orang," katanya.
Sementara pihak Polres Sukabumi Kota telah menyatakan bahwa hingga kini ada 120 anak yang menjadi korban atas aksi bejat Emon. Nama-nama korban Emon semuanya tertulis di buku hariannya.
Kapolres Sukabumi AKBP Hari Santoso mengatakan bahwa nama-nama itu bukan fiktif. Meski baru 70 persen dari 120 nama itu yang melapor ke polisi, tapi dia membuka kemungkinan yang belum melapor nanti akan melapor ke polisi.
(tya/sip)











































