"Buku ini sebetulnya bukan buku teori, tapi pengalaman selama 12 tahun ini. Yang paling mendesak sebetulnya dari media-media, setiap ada aksi teror, selalu pertanyaan yang sama, apakah kelompoknya sama, kaitan dengan JI, JAT, apakah berkaitan dengan NII, Alqaeda," kata Mbai.
Ansyaad Mbai menyampaikan ini kepada wartawan saat menggelar jumpa pers peluncuran buku "Dinamika Baru Jejaring Teror Di Indonesia" yang digelar di Gedung Wisma Antara, Senin (12/5/2014)
Menurut Mbai, ia ingin membeberkan jawaban-jawaban tersebut ke dalam bentuk buku. Sebab pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri.
"Untuk jelaskan satu persatu kan, lebih baik kita bikin buku. Menjawab pertanyaan itu saya mulai dari tahun 2010, kalau ke belakang terlalu panjang, rumit. Makanya saya sebut dnamika baru," ujarnya.
Sebenarnya, dia menjelaskan, JI telah lumpuh pasca tragedi bom JW Marriot dan Ritz Charlton tahun 2009 lalu, dengan tertangkapnya pelaku. Tapi sialnya, pada tahun yang sama banyak tokoh-tokoh JI yang keluar dari penjara, seperti Abu Bakar Basyir, Umar Patek, Dulmatin.
"Lalu mereka timbul ide untuk mengadakan suatu reuni, membuat pusat pelatihan di Aceh, berjalan beberapa bulan, terungkap dan disergap," katanya
Namun, dia melanjutkan, banyak juga dari mereka yang lolos, lalu terpencar menjadi kelompok -kelompok kecil, Seperti perampokan Bank CIMB di Medan, Jawa Tengah dan lainnya. Sementara di Poso, mucul lagi Mujahdin Indonesia Timur.
"Di Jakarta muncul NII, faksinya Abu Umar, sempalannya ada kelompok Abu Roban, Abu Sofyan, mereka mengkhususkan diri mencari dana, fai, merampok bank. Jaringan Indonesia Barat ini berhubungan dengan Indonesia Timur. Itu pusatnya ke Poso, sebagai tempat pelatihan yang baru, setelah sebelumnya di Aceh," katanya.
Selain itu, Mbai juga membahas tentang kontroversi metode penanangan aksi terorisme yang disebut melanggar HAM.
"Belum ada ilmunya menangkap teroris dengan cipika cipiki. Ya pakai senjata, kalau tidak mereka yang menembak kita. Nah disebut melanggar HAM. Masalah terorisme ini masalah kemanusian. Kalau bicara HAM dalam penanganan terorime, ya tolong dilihat secara menyeluruh," katanya.
(idh/ndr)











































