"Money politics terlalu parah. Saya mengamini yang dikatakan politisi lain, termasuk pimpinan DPR Sohibul Iman bahwa Pemilu sekarang money politics terlalu brutal," kata Ramadhan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (12/5/2014).
Dia mengaku mendapat banyak laporan soal maraknya money politics di Dapilnya, Sumut I. "Suasana jelang pemilu luar biasa, hawanya tidak sedap. Malam-malam masuk kampung bawa ransel (isi duit)," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akan lebih baik lagi kalau pelaku penggelembungan suara didiskualifikasi, saya senang," ujarnya.
Ramadhan menegaskan dirinya tak bermain politik uang. Wakil Ketua Komisi I DPR ini mengklaim tak satupun suara yang diraihnya dengan membayar pemilih.
"Suara saya ada yang bilang 14 ribu, 16 ribu, 19 ribu, tidak ada satu amplop pun, itu adalah murni suara yang menginginkan perubahan. Suara saya satu TPS hilang 12, 6, 1, tapi saya tidak mencuri suara siapapun," ujarnya.
Ramadhan sedang mempertimbangkan untuk menggugat ke Mahkamah Konstitusi. Namun dia masih berkonsultasi dengan partainya, karena yang sengketa yang dilaporkannya melibatkan rekan satu partai.
"Saya menyerahkan ke partai deh," ujarnya pasrah.
(trq/van)










































