Idealnya Pilpres Tak Cuma Jokowi dan Prabowo

Idealnya Pilpres Tak Cuma Jokowi dan Prabowo

- detikNews
Senin, 12 Mei 2014 12:30 WIB
Idealnya Pilpres Tak Cuma Jokowi dan Prabowo
Jakarta -

Sejauh ini baru ada dua calon presiden yang muncul ke masyarakat yaitu Jokowi Widodo dari PDIP dan Prabowo Subianto yang diusung Gerindra. Sejumlah kalangan menilai pemilu presiden akan lebih baik bila diikuti oleh lebih dari dua pasangan capres-cawapres.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris berpandangan sebaiknya pada Pilpres nanti memang tidak hanya ada dua pasangan capres dan cawapres. "Idealnya Pilpres diikuti oleh tiga atau empat pasangan," kata Syamsuddin saat dihubungi detikcom, Senin (12/7/2014).

Menurut peneliti senior pada Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI ini munculnya capres lain selain Jokowi dan Prabowo masih memungkinkan. Partai Demokrat yang menempati peringkat keempat Pileg dengan perolehan suara hampir 11 persen masih memiliki peluang untuk mengusung capres sendiri melalui hasil konvensi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, Syamsuddin menggarisbawahi bahwa untuk dapat mengusung capres sendiri Partai Demokrat mesti berkoalisi dengan Partai Golongan Karya. Golkar sebagai partai yang berhasil menempati rangking kedua dengan suara di Pileg hampir 15 persen sangat menentukan untuk Demokrat berkoalisi.

"Demokrat bisa mengusung kandidat capres tapi harus berkoalisi dengan Golkar, kuncinya di Golkar," ujar Syamsuddin.

Sepandangan dengan Syamsuddin, pengamat politik Center for Strategic and International Studies (CSIS) Philips Jusario Vermonte menilai sebaiknya Pilpres nanti tidak hanya diikuti dua pasangan.

Kandidat capres dan cawapres yang ada saat ini dalam pandangan pengamat politik CSIS Philips Jusario Vermonte menanggung beban-beban peristiwa masa lalu. "Agak ironis karena yang bertarung orang-orang lama," kata Philips kepada detikcom baru-baru ini.

Philips menekankan seharusnya partai-partai lebih berani mencari kandidat yang lebih muda dan tidak membawa beban masa lampau yang tidak baik. Apalagi, ia mengingatkan, sebanyak 60 persen penduduk Indonesia usianya di bawah 40 tahun.

Dengan kondisi yang demikian, Philips mengharapkan terbentuknya poros politik baru dari Partai Demokrat. Bagi Philips, Demokrat masih memungkinkan untuk membuat sebuah kekuatan politik baru khusus untuk menghadapi ajang Pilpres.

"Jadi koalisinya untuk pencapresan, bukan koalisi parlemen. Kalau koalisi parlemen nanti bisa setelah Pilpres," jelas Philips.

(brn/rmd)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads