Kelompok Paniis Lestari di kampung Paniis, Desa Taman Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, merupakan sebuah kelompok warga yang memiliki kesadaran untuk menjaga ekosistem. Kelompok ini bertujuan menjaga Sumber Daya Alam (SDA) tanpa merusak habitat kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, sekaligus menjadi salah satu mata pencaharian warga kampung di samping pekerjaan utama mereka sebagai petani dan nelayan.
"Saat ini anggota kami sudah lebih dari 20 orang. Bekerjasama dengan WWF dan pengelola Ujung Kulon, kami diajarkan berbagai keterampilan seperti menanam karang lunak dalam Build Reef Program," ujar Suhendra, Ketua Panles di Kampung Paniis, Jumat (8/5/2014).
Menurutnya, kampung Paniis yang berbatasan langsung dengan Ujung Kulon kerap dieksploitasi masyarakat setempat baik di kawasan darat maupun laut. Warga pesisir yang hanya memiliki mata pencaharian petani dan nelayan terkadang tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Padahal Ujung Kulon merupakan satu-satunya habitat Badak Jawa yang saat ini telah terancam punah.
World Wide Fund (WWF) dan pengelola Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) mengajarkan masyarakat untuk melakukan kegiatan konservasi di sekitar Pantai Paniis dan Pulau Badul. Sejak Juli 2013, kelompok ini telah melakukan penanaman karang lunak dan karang keras di sekitar kawasan tersebut.
"Mata pencaharian kami dari kegiatan ini adalah membawa wisatawan untuk ikut melakukan penanaman karang sambil snorkeling dan diving. Alhamdulillah saat ini sudah sekitar 4300 koloni karang telah tertanam dan masih akan terus bertambah," jelasnya.
Penanaman karang lunak, rupanya tak sulit. Detikcom berkesempatan mencoba melakukan pemasangan karang di sebuah batu beton sepanjang 10-15 cm. Mula-mula sebuah karang lunak dipotong menjadi beberapa bagian. Bagian yang telah terpotong tersebut diikat ke batu beton menggunakan potongan kain tipis. Mengikatnya pun tak boleh terlalu ketat, dikhawatirkan karang tak mampu berkembang apabila diikat terlalu kencang.
"Karang ini hanya dapat bertahan 5 menit di luar, sehingga harus cepat diikat. Satu karang lunak dihargai Rp 15 ribu," kata Suhendra.
Setelah diikat, karang kemudian ditanam di sebuah rak beton yang dipasang di kedalaman 6 hingga 10 meter dibawah permukaan laut. Proses pemasangan ini rupanya mengundang banyak wisatawan mancanegara yang ikut serta untuk melihat langsung keindahan alam bawah laut Pantai Paniis dan Pulau Badul sembari snorkeling, diving, dan menikmati sunset di lautan lepas Samudera Hindia.
"Kegiatan ini memberi manfaat lebih bagi masyarakat sekitar. Selain untuk menjaga ekosistem di sekitar kawasan Taman Nasional Ujung Kulon dengan menanam terumbu karang, kami juga mendapatkan penghasilan ekstra sebagai guide untuk program eco wisata dan marine tourism," paparnya.
Menurut Suhendra, sudah banyak wisatawan asing yang tertarik untuk melakukan program ini. Namun, kendala akses jalan ke lokasi menjadi salah satu hal yang patut disayangkan. Bukan karena jauh, tapi perbaikan serta pelebaran jalan akses yang tak kunjung mendapat perhatian dari pemerintah setempat.
"Saat ini kami masih berusaha dengan program yang sudah ada. Namun apabila wisata di kawasan ini ingin dikembangkan dengan promosi disana-sini, diharapkan infrastruktur juga dapat segera diperbaiki," pungkasnya.
(rni/ndr)











































