"Istrinya hanya dipakai namanya dan belum menikmati uangnya," terang Direksus Mabes Polri Brigjen Pol Arief Sulistyanto di Jakarta, Jumat (8/5/2014).
Pada 10 April pukul 23.30 WIB, bank itu memang tengah melakukan upgrade system. Didik langsung masuk dan melakukan pembobolan. Diduga ada kesalahan sistem sehingga transaksi berulang-ulang dilakukan Didik. Uang dia pindahkan ke rekening dia dan istrinya.
Didik melakukan pembobolan hingga 11 April pukul 16.00 WIB. Pihak kepolisian yang mendapat laporan segera melakukan pemblokiran rekening dia dan beberapa rekening yang mendapat aliran dana. Jadi uang tak bisa keluar.
Polisi kemudian melakukan pelacakan dan ditemukan alamat Didik di Solo. Didik yang mengoperasikan sendiri pembobolan itu, istrinya disebut polisi tak terlibat. Namun polisi masih melakukan penyelidikan apakah Didik tahu kala bank itu melakukan upgrade system. Dugaan keterlibatan orang IT diselidiki.
Sedang soal keberadaan 6 mesin EDC di rumahnya, karena dahulu Didik merupakan pengusaha apotek. EDC itu digunakan untuk apoteknya. Jadi, Didik tak punya latarbelakang IT.
"Tidak, sebelumnya dia punya usaha apotek tapi bangkrut," tutup dia.
(ahy/ndr)











































