Saat Mahasiswa Universitas Bakrie Bertanya Nasib Pencapresan Ical

Saat Mahasiswa Universitas Bakrie Bertanya Nasib Pencapresan Ical

- detikNews
Kamis, 08 Mei 2014 18:11 WIB
Saat Mahasiswa Universitas Bakrie Bertanya Nasib Pencapresan Ical
Diskusi di Universitas Bakrie
Jakarta - Nasib pencapresan Ketum Golkar Aburizal Bakrie (Ical) menarik perhatian pemilih muda. Dalam sebuah diskusi di kampus Universitas Bakrie, juru bicara Golkar Tantowi Yahya harus menjelaskan soal pencapresan Ketumnya.

"Bagaimana sebenarnya tentang isu ARB yang menjadi cawapres Prabowo sedangkan elektabilitas Golkar lebih tinggi daripada Gerindra?" tanya seorang mahasiswa di sesi tanya jawab dalam diskusi di kampus Universitas Bakrie, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (8/5/2014).

Sebelum menjawab pertanyaan, Tantowi nampak tersenyum terlebih dulu. "Ini pertanyaannya susah semua," kata Tantowi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Belakangan ramai katanya Pak Ical jadi cawapres PS. Itu kata siapa? Nggak ada yang bilang begitu," jawab Wasekjen Golkar ini.

Ia menjelaskan, faktanya, Golkar mengungguli Gerindra dalam pileg kemarin. Namun hal berbeda terjadi pada pilpres nanti.

"Ini gamenya lain. Ini pilpres. Kalau pilpres, orang pilih orang. Indikator survei sama hasilnya urutannya sama, Jokowi, Prabowo, ARB. Menyakitkan memang buat kita. Tapi itulah kenyataan," sambungnya.

Ia secara gamblang menyatakan internal Golkar saat ini memang terpecah dengan soal kemungkinan Ical merapat ke Prabowo. Ada kubu 'pragmatis realistis' yang mendukung langkah Ical mendekati Prabowo. Namun, masih besar suara yang meminta ARB tetap bertarung sebagai capres dari Golkar.

"Kalau memang mau menang, ke Prabowo. Kalau maju sendiri, kemungkinan menangnya kecil. Tidak bisa dinafikan itu. Kenapa nggak ke Jokowi? Karena nggak pernah ditawari," ujar Tantowi yang disambut tawa peserta diskusi.

Tantowi pribadi mengaku lebih memilih Golkar legowo berada di posisi cawapres asalkan masuk dalam pemerintahan. Hal ini menjadi lebih menguntungkan daripada kalah dalam pilpres.

"Kita di partai masih terbelah kelompok ini punya pendukung masing-masing. Mengapa jadi cawapres padahal elektabilitasnya tinggi. Ada kelompok yang mengutamakan pride. Mau pokoknya maju. Tapi kalau kalah, duluan pergi," ucapnya.

Ia tak menutup kemungkinan bukan Ical yang akan didorong Golkar sebagai cawapres nantinya.

"Menurut saya, nggak papa jadi nomor 2 tapi ada dalam pemerintahan. Kalau kita tetap terhormat menjadi wapres karena janji politik yang diobral bisa dideliver. Kalau di luar pemerintah susah," ucapnya.



(bil/trq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads