Moewes mengungkapkan pengalamannya memanjat tugu setinggi 132 meter tersebut. Menurutnya, membersihkan Monas merupakan tantangan tersendiri.
"Ini merupakan pemandangan terbaik untuk melihat Jakarta," ujar Moewes di Tugu Monas, Jl Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2014).
Sebelumnya ia juga pernah mengecek kondisi kebersihan Monas 2 tahun yang lalu. Moewes mengaku sangat mencintai pekerjaan tersebut.
"Kamu bisa panggil saya spiderman," katanya sambil tertawa.
Setiap tahunnya pria berkebangsaan Jerman tersebut membersihkan 3-6 monumen. Lama pengerjaan tergantung kondisi monumen tersebut.
Menurutnya setiap monumen yang ia bersihkan memiliki kesulitan masing-masing, termasuk Monas. Ia harus mempelajari type monumen dari bentuk hingga material yang digunakan. Dari situ baru dapat ditentukan metode dan alat yang digunakan untuk membersihkan.
"Kita cek dulu kondisi monumen dan material apa yang digunakan. Kamu harus sangat sensitif tentang material karena ini bersejarah," tuturnya.
2 Tahun lalu, Moewes juga mengambil sampel plat batu Monas. Ia membawanya ke laboratorium untuk memeriksa batu dan debu.
"Dua-duanya penting, batu dan debu, untuk mencari metode terbaik. Apakah debu menyebabkan kerusakan atau tidak," ujarnya.
Jika debunya tebal, pembersihan tak hanya dilakukan sekali. "Harus berkali-kali bilas. Makanya kami memilih metode pembersihan yang sensitif," tuturnya.
Sementara itu, pembersihan badan tugu Monas kini telah dimulai. Setelah mempersiapkan hingga lebih dari setengah hari, leher Monas tepat bawah emas mulai dibersihkan. Sebelumnya 3 orang tersebut sempat turun untuk istirahat makan siang.
2 orang dari mereka tampak menggantung di puncak monumen andalan ibu kota tersebut. Mengenakan body harnest, keduanya menggantung sambil menyemprot tugu di ketinggian 132 meter. Hingga saat ini pembersihan masih berlangsung.
(kff/ndr)











































