Peran Tutut Sangat Penting

Kesaksian Nicholas Martin Prest

Peran Tutut Sangat Penting

- detikNews
Jumat, 17 Des 2004 12:37 WIB
Jakarta - Dalam kesaksian Nicholas Martin Prest pada persidangan di Inggris antara Chan U Seek melawan Alvis, tergambar jelas peran penting Tutut dalam upaya menggolkan kontrak pertama dan kedua dari pembelian tank Scorpion. Secara lugas dikatakan Prest, bahwa ada dua faktor krusial dalam keberhasilan kontrak pembelian Scorpion dan Stormer, yakni pengaruh Rini Soewondho dalam TNI dan peran Tutut melalui dua perusahaannya, Global Select dan Basque.Berikut kesaksian Prest seperti dilansir The Guardian, media Inggris yang pertama kali merilis dugaan suap kepada Tutut:Saya Ketua dan Kepala Eksekutif Alvis Plc. Saya bergabung dengan Alvis Plc (kemudian dikenal sebagai United Scientific Holdings Plc (USH)) pada 11 Januari 1982 sebagai Manajer Senior Penjualan Ekspor yang bertanggung jawab untuk Timur Tengah.Sebelum tahun 1982, saya merupakan pegawai di Kementerian Pertahanan dari tahun 1974. Selama tiga tahun kemudian semasa saya di Kementerian Pertahanan, saya bekerja untuk Organisasi Penjualan Pertahanan, cabang Kementerian Pertahanan yang memberikan fungsi pendukung bagi industri Inggris di pasar ekspor.Saya ditunjuk sebagai Manajer Umum Penjualan USH, bertanggung jawab untuk ekspor dunia pada Oktober 1983. Saya dipromosikan ke Dewan perusahaan pada tahun 1985, memegang peran yang sama, namun sebagai Direktur Marketing.Pada tahun 1987, saya mendapat tanggung jawab tambahan, melaporkan ke Dewan mengenai beberapa unit bisnis, termasuk Alvis Limited (yang telah diakuisisi USH pada September 1981). Perusahaan ini adalah Tergugat dalam kasus ini, dan sekarang dikenal sebagai Alvis Vickers Limited (Alvis).Dari akhir tahun 1989, saya menjadi Kepala Eksekutif USH. Saya diberi tahu oleh Peter Martin pada akhir tahun 1989 bahwa sebuah pendekatan telah diterima saat eksibisi pertahanan di Kuala Lumpur dari sebuah perusahaan Indonesia bernama PT. Surya Kepanjen (PTSK) melalui direkturnya, Widorini Soewondho (Rini). Saya diberi tahu bahwa dia telah menawarkan jasanya untuk membantu Alvis mendapatkan kontrak di Indonesia untuk perbaruan kendaraan FV 600 (kendaraan Saladin, Ferret dan Saracen) yang dioperasikan TNI.Alvis akhirnya menunjuk PTSK sebagai perwakilan lokal untuk mempromosikan kendaraan Scorpion 90 dan Stormer ke pemerintah Indonesia. Melalui upaya-upaya Rini, kontak dilakukan dengan Mayjen Togi, Wakil Kepala Staf yang bertanggung jawab atas alokasi peralatan untuk TNI serta Mayjen Wismoyo, Panglima KOSTRAD. Mayjen Wismoyo merupakan figur berpengaruh dalam ABRI dan menyatakan tertarik akan penggunaan kendaraan Scorpion dan Stormer.Pada 29 Juni 1992, dua orang tersebut datang ke Coventry, Inggris untuk melihat pabrik Alvis. Saya mengawal mereka dari London. Mereka datang untuk menyelidiki perusahaan. Saudara Rini, Didie Soewondho juga ikut. Ini merupakan kesempatan bagi kami untuk menunjukkan kemampuan Scorpion dan Stormer.Jenderal WismoyoPerkembangan signifikan selanjutnya adalah pertemuan saya dengan Mayjen Wismoyo pada 24 Agustus 1993. Saat itu dia telah diangkat Kepala Staf TNI. Pertemuan itu juga dihadiri oleh Rini dan Lionel Steele, yang mengambil alih posisi Bruce Boden sebagai Manajer Penjualan Internasional Alvis untuk Indonesia. Pertemuan itu diadakan di kantor Jenderal Wismoyo di Indonesia. Pertemuan tersebut diatur oleh Rini.Jenderal Wismoyo menyatakan minat besar akan kendaraan Scorpion dan mengatakan pada kami dia tidak tertarik dengan produksi lokal, namun pada pembelian sejumlah kecil kendaraan tersebut langsung dari Alvis di Coventry. Selama pertemuan itu, Jenderal Wismoyo mengungkapkan bahwa dirinya senang bekerja dengan Rini sebagai agen. Ini saya anggap sebagai ekspresi kepercayaan akan kemampuan PTSK untuk menangani urusan ini.Tidak lama setelah itu, TNI mulai bekerja pada proposal pembelian sejumlah kendaraan Scorpion dari anggaran 1994/1995 mereka. Pada tahap ini, saya mulai mengerti bahwa skala dana di bawah kontrol TNI relatif kecil, kemungkinan sekitar US$ 50 hingga US$ 100 juta per tahun yang tersedia untuk pembelian kapital.Proyek-proyek yang lebih besar akan membutuhkan alokasi anggaran lainnya dari pemerintah pusat. Karena itu pada tahap ini, TNI merencanakan program pembelian sederhana dengan anggaran yang ada. Proposal yang mereka ajukan setelah pertemuan kami pada Agustus 1993 adalah untuk pembelian 17 kendaraan Scorpion dan Stormer.Pada November 1993, saya berkunjung ke Indonesia bersama-sama Lionel Steele. Proposal telah berkembang hingga poin bahwa persetujuan pemerintah akan diupayakan keluar pada April 1994 untuk pembelian 17 kendaraan bernilai US$ 25 juta. Akan tetapi, kelihatan sekali bahwa ini belum mewakili ambisi TNI sepenuhnya.Mereka menyatakan bahwa mereka ingin membeli 50 kendaraan namun saat itu belum jelas dari mana dana untuk kendaraan tambahan akan diperoleh. Saya menyimpulkan pada akhir pertemuan November 1993 bahwa proyek ini berpotensi untuk menjadi lebih besar bagi Alvis daripada yang kami bayangkan semula.Rini dan saudaranya Didie mulai bekerja pada strategi tentang bagaimana dana ekstra bisa diperoleh ABRI untuk membeli jumlah kendaraan yang lebih besar. Mereka menyarankan untuk menunjuk konsultan lain guna membantu proses ini. Pasalnya, meski Rini jelas-jelas memiliki kontak dan pengaruh yang hebat dengan TNI, namun pengaruhnya dalam alokasi anggaran pemerintah pusat kurang kuat.Mbak TututOrang yang disebut Rini untuk membantu kami adalah seseorang yang kami panggil sebagai Madam Tutut. Nama sebenarnya adalah Ibu Siti Rukmana, yang merupakan putri sulung Presiden Soeharto. Rini melakukan kontak awal dengan dia dan saya, Trevor Harrison dan Lionel Steele, kemudian bertemu dengan dia (Tutut) pada Februari 1994.Pada pertemuan itu, dia menyatakan minatnya untuk membantu kami. Dia mendorong kami untuk membuat pengaturan dengan perusahaannya dalam sebuah Perjanjian Konsultan. Dia memberikan jasanya melalui perusahaan yang bernama Global Select. Perjanjian itu dilakukan pada 7 April 1994 dan diteken oleh kedua pihak pada 4 Mei 1994. Perjanjian itu antara Alvis Plc (dan bukan Alvis Vehicles Limited) dan Global Select, yang ditunjuk sebagai konsultan untuk membantu yang berhubungan dengan penjualan Scorpion dan kendaraan lain serta dukungan di Indonesia.Setelah itu, Rini bekerja relatif erat dengan Madam Tutut di Indonesia dalam mengkoordinasikan upaya bersama mereka, Rini dengan TNI dan Global Select dengan berbagai otoritas Indonesia yang bertanggung jawab atas alokasi anggaran. Madam Tutut merupakan jembatan antara Kementerian Pertahanan di lain pihak, dan Presiden, kementerian perencanaan (di Indonesia dikenal sebagai BAPPENAS) serta Kementerian Keuangan.Pada Juli 1994, Panglima ABRI mengirimkan surat resmi ke Presiden yang meminta tambahan dana sebesar US$ 250 juta. Atas usul Global Select, undangan resmi dikirimkan Alvis untuk dua Wakil Kepala ABRI, Letjen Hartono dan Letjen Mantiri, untuk berkunjung ke pabrik Alvis di Coventry.Maksud kunjungan ini adalah memberikan keyakinan final bagi ABRI menyangkut komitmen mereka pada Alvis sebelum meneken kontrak. Madam Tutut menyertai mereka dan saya ada di sana selama kunjungan mereka. Selain pertemuan ini dan pertemuan sebelumnya dengan Madam Tutut, saya tidak pernah melakukan kontak lainnya dengan dia.Parade ABRITidak lama setelah itu, saya mendengar bahwa ABRI telah memotong anggaran tambahan mereka untuk proyek ini dari US$ 250 juta menjadi US$ 125 juta. Namun, mereka sangat ingin mendapatkan pengiriman sekitar setengah dari total kendaraan pada Oktober 1995, HUT ke-50 ABRI, agar kendaraan itu bisa diikutsertakan dalam parade besar di ibukota Jakarta.Pada akkhirnya kami berhasil menyediakan kendaraan untuk parade tersebut. Namun waktunya begitu ketat sampai-sampai 26 kendaraan harus diterbangkan (bukannya dikapalkan) dari Inggris ke Indonesia pada September 1995 supaya siap untuk parade. Saya menghadiri parade tersebut, yang merupakan keberhasilan besar dan melaporkan ke Dewan Alvis dalam sebuah memorandum 9 Oktober 1995, yang mana saya melihat adanya kemungkinan bisnis lebih jauh.Karena keberhasilan implementasi kontrak inilah, maka pada awal tahun 1996, ada perdebatan di level senior ABRI untuk melakukan pembelian batalyon kendaraan berikutnya. Akan tetapi, pada tahap ini, kami menghadapi persaingan dari perusahaan Korea yang menawarkan kendaraan bersaing dengan kredit yang lebih ringan.Peran HartonoKami mampu memenangkan persaingan ini dengan memperoleh dukungan dari staf Kementerian Pertahanan Indonesia. Madam Tutut sangat penting dalam mencapai hal ini. Jenderal Hartono, yang telah menjabat Kepala TNI AD, mengatur pertemuan krusial dengan Presiden pada Februari 1996 dan Hartono mendesak keras perlunya tank-tank Scorpion. Persetujuan dari Departemen Keuangan RI keluar tak lama setelah itu.Kontrak kedua diteken pada 19 April 1996 dan itu untuk pembelian 30 Scorpion, 20 Stormer dan bermacam-macam perlengkapan yang diperkirakan bernilai US$ 125 juta atau 78 juta pounds.Kontrak ini diberlakukan pada Agustus 1996 namun izin ekspor (yang melibatkan banyak kerja keras di Inggris) tidak keluar hingga Desember 1996.Ada dua faktor krusial yang memungkinkan kami mendapatkan kontrak 1995 dan 1996. Pertama adalah kontak-kontak dan pengaruh Rini dengan TNI yang bisa dimanfaatkan Alvis untuk memprioritaskan permintaan akan kendaraan Scorpion dalam ABRI.Kedua, atas rekomendasi Rini, upaya kami menunjuk konsultan, Global Select dan Basque untuk masing-masing kontrak, yang melalui Madam Tutut, sangat penting dalam memungkinkan ABRI memperoleh dana yang diperlukan, melebihi anggaran mereka yang ada, sehingga mereka bisa membiayai pembelian kendaraan dalam jumlah besar itu.Saya yakin bahwa isi pernyataan ini adalah benar. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads