"Kalau ada seorang capres yang bersikukuh akan menasionalisasi aset asing, saya tidak akan memilihnya, tidak akan mendukungnya, karena saya tahu risikonya, itu membawa malapetaka bagi Indonesia," ungkap SBY dalam video Suara Demokrat yang diunggah ke situs YouTube, Rabu (7/5/2014).
Sebenarnya Gerindra telah lama menaruh hati kepada Demokrat. SBY juga pernah mengundang Prabowo secara khusus ke Kantor Presiden pada Selasa (14/12/2013). Setelah pertemuan itu, Prabowo mengaku semakin besar hati lantaran pencapresannya disinggung SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertemuan dengan Pak SBY mungkin besok. Komunikasi kita berjalan dengan baik. Sejak tahun lalu kita sudah beberapa kali ketemu Pak SBY," kata Waketum Gerindra, Fadli Zon, kepada detikcom, Selasa (15/4/2014).
Bahkan Ketum Gerindra Suhardi menyatakan bahwa apapun yang dikatakan SBY pasti akan didengarkan oleh Prabowo. Ketika itu dirinya berharap antara keduanya saling mengikat janji sehingga terwujud koalisi.
"SBY ini akan didengarkan oleh Prabowo. Dia mendengar saran senior dan sahabatnya. Bisa saja besok kalau sepakat, langsung diumumkan," tutur Suhardi saat diwawancarai terpisah.
Bukan tanpa sebab bila Gerindra menaruh harap pada Demokrat. Pasalnya sebelum itu pun Ketum PD SBY seakan memberi harapan manis.
"Apa mungkin PD berkoalisi dengan Gerindra? Saudara, tentu terlalu dini jawaban seperti ini. Tapi satu hal, dalam politik segala kemungkinan bisa terjadi. In politics anything is possible. Menurut Otto Von Bismarck, politics is the art of possible. Saatnya belum tepat untuk jawaban spesifik seperti itu," kata SBY dalam pidatonya pasca Pileg.
Apakah sekarang PD telah menjadi pemberi harapan palsu (PHP) buat Gerindra?
(bpn/mok)











































