Sepanjang tahun 2013 sampai awal tahun 2014 Gubernur Jokowi yang sudah resmi jadi capres PDIP memimpin semua survei capres. Tingkat elektabilitasnya di beberapa survei melejit sampai di atas 30%. Sementara capres Gerindra Prabowo Subianto menguntit di belakang Jokowi dengan raihan suara mendekati 20%.
Namun ada fakta mengejutkan bahwa tingginya elektabilitas Jokowi ternyata gagal mengangkat suara PDIP di Pemilu 9 April lalu. Memang muncul fenomena 'Jokowi Yes PDIP No' menjelang Pileg, selain karena persoalan internal PDIP yang cukup mengganggu.
Sementara itu Prabowo justru mampu mengangkat suara Gerindra memasuki 3 besar. Perolehan suara Gerindra menyalip PD dengan raihan sekitar 12% suara. Tak sukses menjadi partai nomor satu, namun membuat peluang Prabowo ke Pilpres 2014 terbuka lebar.
Dua fakta itu hanya gelagat politik terakhir pasca Pileg. Untuk mengetahui situasi terkini elektabilitas dua capres terkuat itu lembaga survei Saiful Mujani Reseach and Consulting (SMRC) melakukan survei. Hasilnya tren Jokowi dalam lima bulan terakhir menurun, sementara Prabowo naik.
"Lima bulan terakhir kami mencatat Jokowi cenderung melemah, Prabowo menguat," ujar peneliti senior SMRC Sirajudin Abas dalam rilis survei SMRC tentang 'Koalisi Untuk Calon Presiden: Elite vs Massa Pemilih Partai' di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (4/5/2014).
SMRC juga memprediksi jika hanya ada 2 nama capres yang bertarung dalam pilpres, Jokowi diprediksi meraih 51 persen. "Kemungkinan Jokowi menang masih besar meski untuk satu putaran masih rumit. Karena penurunan Jokowi konsisten, sementara kenaikan Prabowo juga konsisten. Bukan tidak mungkin nanti akan ada terjadi pertemuan titik antara mereka berdua," tuturnya.
Namun demikian elektabilitas Jokowi memang mengalami fluktuasi suara cukup signifikan. Pada Desember 2013, elektabilitas Jokowi sebesar 51 persen. Namun dua bulan berikutnya, Februari 2014, elektabilitas Jokowi menurun di angka 39 persen. Pada Maret 2014 kembali naik menjadi 52 persen, dan terakhir pasca pileg 9 April elektabilitas Jokowi 47 persen.
Sementara pesaing terketatnya, Prabowo Subianto, mengalami kenaikan yang relatif stabil, dari 22 persen di Desember 2013 menjadi 32 persen di April 2014 pasca pileg.
Survei ini dilakukan pada 20-24 April 2014. Survei ini menggunakan metodologi cluster random sampling dengan teknik wawancara dan tatap muka langsung dengan responden awal berjumlah 2.040, namun yang valid dianalisa berjumlah 2.015 responden. Margin of error sebesar -/+ 2,2 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Quality control sebesar 20 persen dari responden didatangi kembali untuk ditanyakan oleh supervisor (spot check). Responden survei adalah warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dalam pemilu.
Survei ini mencatat head to head Jokowi vs Prabowo saat ini berada di angka 37,7 persen vs 23,9 persen. Lalu siapa yang bakal menang Pilpres dan melenggang ke Istana, Jokowi atau Prabowo?
(van/nrl)











































