Dikukuhkan Jadi Guru Besar, Ini Arti Filsafat Intelijen Bagi Hendropriyono

Dikukuhkan Jadi Guru Besar, Ini Arti Filsafat Intelijen Bagi Hendropriyono

- detikNews
Rabu, 07 Mei 2014 11:53 WIB
Dikukuhkan Jadi Guru Besar, Ini Arti Filsafat Intelijen Bagi Hendropriyono
Jakarta - Mantan Kepala BIN Jenderal TNI (Purn) Hendropriyono dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Intelijen. Ia memaparkan apa sebenarnya filsafat intelijen di Indonesia.

"Bila saya menyampaikan pemikiran tentang filsafat intelijen, beberapa cendekiawan hampir dapat dipastikan mengerutkan kening mereka. Selama ini, komunitas cendekiawan hanya mengenal filsafat politik, filsafat hukum namun tidak pernah filsafat intelijen," kata Hendropriyono mengawali orasinya yang berjudul 'Filsafat Intelijen Negara Republik Indonesia', Selasa (7/5/2014).

Acara pengukuhan ini dilaksanakan di Balai Sudirman, Jalan Saharjo, Tebet, Jakarta Selatan. Acara ini dihadiri sejumlah tokoh besar seperti Megawati, Tri Sutrisno, Akbar Tandjung, Menteri Pertahanan Purnomo Sugiantoro, KSAD Jend Budiman, Menteri Perumahan Rakyat Djan Fariz, Fuad Bawazier, Ketua DPP Hanura Wiranto, Khofifah Indarparawansa, dan banyak tokoh lainnya.

Dalam orasinya, Hendro menjelaskan hakikat intelijen ada pada tindakan yang cepat dan tepat. Bukan pasca kejadian layaknya penegakan hukum. "Intelijen mengumpulkan informasi secara cepat dan akurat untuk mencegah terjadinya kejadian yang membahayakan keselamatan negara," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, penggagas Sekolah Tinggi Intelejen Negara (STIN) ini mengucapkan terima kasihnya pada Megawati yang menyetujui untuk mendirikan STIN saat menjabat sebagai presiden. Menurutnya kelahiran STIN adalah bentuk eksistensi intelijen di Indonesia.

"Membuat beliau berkenan mendirikan sekolah intelijen S1 di Sentul dan S2 di Batam. Karena cita-cita kita setelah melihat kerja sama intelijen antar negara, selalu ditanya alumni mana? Tidak ada yang dari Indonesia padahal kita sudah buktikan. Kenapa kita tidak buat menjadi sebuah frame. Karena kebijakan saat ibu Megawati presiden berdirilah dua perguruan intelijen," ucapnya.

Hingga saat ini STIN S1 di Sentul, Bogor, masih berdiri. Namun, tak begitu dengan sekolah S2 yang dibangun di Batam. Ia berharap pada pemerintahan berikutnya ia dapat kembali mengaktifkan sekolah tersebut.

"Mudah-mudahan yang mendatang bisa mengembalikan rencana dulu. Yang di Batam harus dikembalikan sebagai sekolah intelijen tingkat magister," sambungnya.

Usai membacakan orasinya, Hendro menerima pemasangan selempang guru besar oleh Prof DR H. Priyatna Abdurasyid sebagai tanda pemberian guru besar oleh Kementerian Pendidikan Indonesia.

(bil/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads