Kapolresta Pekanbaru Kombes Robert Hariyanto kepada detikcom menjelaskan, anggota provost itu adalah Bripka E. Selasa (6/5/2014) sore, ia menjemput kakaknya yang bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi Riau di Jl Cut Nyakdin, di sekitaran Kantor Gubernur Riau. Saat menunggu kakaknya, Bripka E melihat mobil Avanza akan pakir. Melihat kondisi parkir yang semrawut, naluri kepolisiannya muncul.
"Anggota kita mencoba membantu ibu itu untuk meluruskan kendaraannya," kata Robert.
Setelah mengatur parkir, seorang ibu berpakaian dinas PNS yang kemudian diketahui bernama Iriati (40) keluar dari mobil Avanzanya. Iriati panik saat melihat pistol di saku Bripka E yang berpakaian preman.
"Ibu itu ketakutan saat anggota kita yang berpakaian preman terlihat senjatanya di saku. Karena dia panik melihat pistol, ibu itu teriak rampok," kata Robert.
Karena panik diteriaki perampok, lanjut Kapolresta, Bripka E lantas meminta Iriati masuk ke mobil. Ini agar tidak terjadi salah persepsi dan jangan sampai terjadi pengeroyokan massa atas teriakan perampok.
"Makanya anggota saya itu mencoba menenangkan si ibu tadi. Dia menjelaskan, kalau dirinya bukan perampok, tapi anggota kepolisian," kata Robert.
Saat di dalam mobil, lanjut Robert, anggotanya menjelaskan kalau dirinya anggota polisi dan tiba-tiba senjata yang dikantonginya meletus. Peluru mengenai paha dan tembus mengenak jari kakinya Bripka E.
"Jadi tidak benar kalau anggota saya akan melakukan upaya perampokan. Dia anggota polisi yang baik, kariernya juga bagus kok selama ini," kata Robert.
Robert menambahkan informasi itu merupakan keterangan yang didapat dari anggotanya. "Nanti ada keterangan lagi setelah ibu tadi dimintai keterangan oleh pihak Polda Riau," kata Robert.
Keterangan jauh berbeda disampaikan Iriati. PNS Dinkes Riau itu mengaku sempat ditodong pistol. Ia melawan sehingga Bripka E tertembak pistolnya sendiri.
(cha/try)











































