Antara Predator Seks Internasional Vahey dan Si Anak Sukabumi Emon

Antara Predator Seks Internasional Vahey dan Si Anak Sukabumi Emon

- detikNews
Selasa, 06 Mei 2014 13:10 WIB
Antara Predator Seks Internasional Vahey dan Si Anak Sukabumi Emon
Jakarta - Dua predator seks William James Vahey dan Andri Sobari alias Emon menjadi sorotan akhir-akhir ini. Meski berbeda lokasi aksinya, mereka sama-sama berbuat keji dengan melakukan kekerasan seks terhadap anak. Jumlahnya bahkan sangat banyak.

Nama Vahey mencuat setelah kasus kekerasan seks di Jakarta International School (JIS) terungkap. Vahey rupanya pernah mengajar di sekolah ternama tersebut selama 10 tahun. Belum jelas, apakah ada murid JIS yang menjadi korbannya, yang pasti salah satu pelaku sodomi yang dijadikan tersangka polisi, Zainal, mengaku pernah dilecehkan oleh Vahey beberapa tahun lalu.

FBI mencatat jumlah korban Vahey ada di beberapa negara. Jumlahnya mendekati angka 100. Namun sayang, saat kasus ini hendak diungkap, Vahey bunuh diri di Amerika Serikat. Polisi hanya mendapat bukti file di USB yang berisi foto-foto para korban.

Nun jauh di sebuah wilayah terpencil di Sukabumi, Jabar, cerita yang tak kalah menggegerkan pun muncul. Ada seorang predator seks berusia 24 tahun yang biasa dipanggil Emon mencabuli puluhan bocah di pemandian. Polisi memperkirakan jumlah korbannya lebih dari 100 anak karena di sudah beraksi sejak tahun 2005. Sejauh ini baru ada 89 anak yang melapor.

Bagaimana perbandingan antara Vahey dan Emon? Berikut kisahnya:


Latar Belakang

Tidak banyak catatan soal latar belakang Vahey, sebab dia sudah bunuh diri. Yang pasti, Vahey kerap berkelana ke sejumlah negara dan menjadi guru internasional. Diduga kuat, selama pengembaraan itu, dia melancarkan aksi bejatnya terhadap anak-anak.

Khusus di Indonesia, dia mengajar di JIS sejak tahun 1990 hingga tahun 2000. Dia tinggal di Jalan WR Supratman, Pondok Ranji, Tangerang Selatan, atau lebih dikenal dengan nama Countrywoods Residence. Sejak tahun 1992, dia di sana bersama istrinya, Jean K Vahey. Mereka tinggal bersama kedua anaknya.

Budi, staf manajemen Countrywoods mengaku kaget saat membaca berita Bill Vahey, yang disebut FBI sebagai predator anak dengan puluhan remaja yang menjadi korban kejahatan seksualnya. Guru-guru di JIS juga tak ada yang menyangka Vahey bisa berbuat demikian kejamnya.

Sementara Andri Sobari memiliki cerita kelam soal masa lalu. Dia mengaku pernah pacaran dengan wanita, namun ternyata diselingkuhi. Dia juga pernah disodomi oleh temannya.

"Waktu itu saya pernah jadi korban, waktu itu sama teman yang ebol (sodomi) saya. Saya diebol di pemandian Santa, dia teman main, namanya Rizki," tutur Emon.

Latar belakang itu rupanya membuat Emon berubah di kemudian hari dan menjadi predator seks bagi anak-anak.

Latar Belakang

Tidak banyak catatan soal latar belakang Vahey, sebab dia sudah bunuh diri. Yang pasti, Vahey kerap berkelana ke sejumlah negara dan menjadi guru internasional. Diduga kuat, selama pengembaraan itu, dia melancarkan aksi bejatnya terhadap anak-anak.

Khusus di Indonesia, dia mengajar di JIS sejak tahun 1990 hingga tahun 2000. Dia tinggal di Jalan WR Supratman, Pondok Ranji, Tangerang Selatan, atau lebih dikenal dengan nama Countrywoods Residence. Sejak tahun 1992, dia di sana bersama istrinya, Jean K Vahey. Mereka tinggal bersama kedua anaknya.

Budi, staf manajemen Countrywoods mengaku kaget saat membaca berita Bill Vahey, yang disebut FBI sebagai predator anak dengan puluhan remaja yang menjadi korban kejahatan seksualnya. Guru-guru di JIS juga tak ada yang menyangka Vahey bisa berbuat demikian kejamnya.

Sementara Andri Sobari memiliki cerita kelam soal masa lalu. Dia mengaku pernah pacaran dengan wanita, namun ternyata diselingkuhi. Dia juga pernah disodomi oleh temannya.

"Waktu itu saya pernah jadi korban, waktu itu sama teman yang ebol (sodomi) saya. Saya diebol di pemandian Santa, dia teman main, namanya Rizki," tutur Emon.

Latar belakang itu rupanya membuat Emon berubah di kemudian hari dan menjadi predator seks bagi anak-anak.

Wilayah Operasi

William James Vahey diduga telah melakukan kekerasan seksual terhadap anak-anak dari sejumlah sekolah internasional di dunia. Dalam melancarkan aksinya, Vahey menggunakan obat bius sehingga korbannya tak sadarkan diri.

Sebelum bunuh diri, Vahey ketahuan oleh rekan/atasannya di American Nicaraguan School, mendokumentasikan penyimpangan orientasi seksualnya ke dalam sebuah USB. Alhasil, Vahey dipecat pada 12 Maret 2014. Kemudian pihak sekolah internasional tempat terakhir Vahey mengajar itu melaporkan temuannya kepada FBI.

Vahey sendiri melakukan perjalanan secara ekstensif selama empat dekade terakhir, mengajar di sekolah-sekolah Amerika di Nikaragua, Inggris, Venezuela, Indonesia, Arab Saudi, Yunani, Iran, Spanyol, dan Libanon. Namun saat FBI hendak menangkapnya, Vahey memilih bunuh diri di Minnesota, AS, pada 21 Maret 2014 lalu.

Berbeda dengan Vahey, Emon melakukan aksinya di sebuah pemandian air panas di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Lokasi pemandian itu bernama Taman Rekreasi Air Panas Santa. Posisinya berada di Jl Pramuka, Kelurahan Gedong Panjang, Kecamatan Citamiang, Sukabumi.

Posisi kolam air panas itu memang tersembunyi dan berselimutkan ilalang. Seluruh korban dicabuli di tempat yang tak terurus itu.

Terdapat 2 kolam di lokasi itu. Sebuah kolam air panas dan kolam air dingin. Selain itu, tampak jejeran bangunan rumah yang terbengkalai. Di situlah diyakini sebagai lokasi di mana Emon melancarkan aksinya.

Wilayah Operasi

William James Vahey diduga telah melakukan kekerasan seksual terhadap anak-anak dari sejumlah sekolah internasional di dunia. Dalam melancarkan aksinya, Vahey menggunakan obat bius sehingga korbannya tak sadarkan diri.

Sebelum bunuh diri, Vahey ketahuan oleh rekan/atasannya di American Nicaraguan School, mendokumentasikan penyimpangan orientasi seksualnya ke dalam sebuah USB. Alhasil, Vahey dipecat pada 12 Maret 2014. Kemudian pihak sekolah internasional tempat terakhir Vahey mengajar itu melaporkan temuannya kepada FBI.

Vahey sendiri melakukan perjalanan secara ekstensif selama empat dekade terakhir, mengajar di sekolah-sekolah Amerika di Nikaragua, Inggris, Venezuela, Indonesia, Arab Saudi, Yunani, Iran, Spanyol, dan Libanon. Namun saat FBI hendak menangkapnya, Vahey memilih bunuh diri di Minnesota, AS, pada 21 Maret 2014 lalu.

Berbeda dengan Vahey, Emon melakukan aksinya di sebuah pemandian air panas di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Lokasi pemandian itu bernama Taman Rekreasi Air Panas Santa. Posisinya berada di Jl Pramuka, Kelurahan Gedong Panjang, Kecamatan Citamiang, Sukabumi.

Posisi kolam air panas itu memang tersembunyi dan berselimutkan ilalang. Seluruh korban dicabuli di tempat yang tak terurus itu.

Terdapat 2 kolam di lokasi itu. Sebuah kolam air panas dan kolam air dingin. Selain itu, tampak jejeran bangunan rumah yang terbengkalai. Di situlah diyakini sebagai lokasi di mana Emon melancarkan aksinya.

Korban Mendekati Angka 100

FBI menyebut korban William James Vahey berjumlah 90 anak. Data itu didapat dari USB milik sang guru sekolah internasional. Namun ada kemungkinan korbannya lebih dari itu.

Saat ini, FBI terus menyelidiki kasus ini. Badan Federal AS itu juga meminta bantuan publik untuk memberi informasi tentang korban dan sosok Vahey.

Yang paling bereaksi keras adalah publik di London. Sejumlah orang tua khawatir, ada anak-anak mereka yang menjadi korban. Di London, Vahey mengajar sejarah dan geografi di Southbank International School sejak 2009 hingga 2013.


Sementara itu, salah seorang murid Vahey mengklaim tiga dari murid Vahey bunuh diri setelah dilecehkan oleh Vahey. Pengakuan itu datang dari Alicia, yang diajar oleh Vahey di Arab Saudi pada tahun 1990-an.


Emon, pemuda bejat dari Sukabumi juga mencabuli korbannya hingga mendekati angka 100. Hingga Senin (5/5) malam, total ada 89 anak yang melapor ke polisi karena mengaku sebagai korban.

Emon sebelumnya mengaku jumlah korbannya sebanyak 55 anak. Namun pihak kepolisian tidak mempercayainya begitu saja, ditambah sudah 89 anak yang datang melapor. Polisi memperkirakan, jumlah korbannya akan terus bertambah.

Menurut polisi, Emon beraksi sejak tahun 2005 lalu. Kala itu, usianya masih 15 tahun.

Korban Mendekati Angka 100

FBI menyebut korban William James Vahey berjumlah 90 anak. Data itu didapat dari USB milik sang guru sekolah internasional. Namun ada kemungkinan korbannya lebih dari itu.

Saat ini, FBI terus menyelidiki kasus ini. Badan Federal AS itu juga meminta bantuan publik untuk memberi informasi tentang korban dan sosok Vahey.

Yang paling bereaksi keras adalah publik di London. Sejumlah orang tua khawatir, ada anak-anak mereka yang menjadi korban. Di London, Vahey mengajar sejarah dan geografi di Southbank International School sejak 2009 hingga 2013.


Sementara itu, salah seorang murid Vahey mengklaim tiga dari murid Vahey bunuh diri setelah dilecehkan oleh Vahey. Pengakuan itu datang dari Alicia, yang diajar oleh Vahey di Arab Saudi pada tahun 1990-an.


Emon, pemuda bejat dari Sukabumi juga mencabuli korbannya hingga mendekati angka 100. Hingga Senin (5/5) malam, total ada 89 anak yang melapor ke polisi karena mengaku sebagai korban.

Emon sebelumnya mengaku jumlah korbannya sebanyak 55 anak. Namun pihak kepolisian tidak mempercayainya begitu saja, ditambah sudah 89 anak yang datang melapor. Polisi memperkirakan, jumlah korbannya akan terus bertambah.

Menurut polisi, Emon beraksi sejak tahun 2005 lalu. Kala itu, usianya masih 15 tahun.

Dokumentasi

William James Vahey dan Andri Sobari alias Emon memiliki kesamaan, terutama dalam urusan dokumentasi korban. Vahey mengumpulkan foto korban di USB miliknya, sementara Emon mengaku mencatat para korban di buku catatan harian.

Menurut pihak FBI, ulah Vahey terbongkar saat dia mendapat kontrak mengajar di American Nicaraguan School pada Maret 2014. Saat itu pembantu rumah tangganya menemukan USB yang berisi gambar-gambar pornografi anak remaja pria. Total ada 90 anak yang diidentifikasi.

Sementara di Sukabumi, Emon juga mendokumentasikan korban-korbannya. Kepada detikcom, dia mengaku ada buku harian yang selalu dibawanya saat melakukan sodomi. Di catatan itu, ada 55 nama. Namun hingga kini, polisi belum menemukannya.

Guru besar krimonologi Universitas Indonesia Tubagus Ronny Nitibaskara melihat ini adalah sebuah bentuk penyimpangan. Dia menduga, baik Vahey dan Emon memiliki kepuasan dengan melihat foto korban atau mengetahui nama-nama korbannya.

Dokumentasi

William James Vahey dan Andri Sobari alias Emon memiliki kesamaan, terutama dalam urusan dokumentasi korban. Vahey mengumpulkan foto korban di USB miliknya, sementara Emon mengaku mencatat para korban di buku catatan harian.

Menurut pihak FBI, ulah Vahey terbongkar saat dia mendapat kontrak mengajar di American Nicaraguan School pada Maret 2014. Saat itu pembantu rumah tangganya menemukan USB yang berisi gambar-gambar pornografi anak remaja pria. Total ada 90 anak yang diidentifikasi.

Sementara di Sukabumi, Emon juga mendokumentasikan korban-korbannya. Kepada detikcom, dia mengaku ada buku harian yang selalu dibawanya saat melakukan sodomi. Di catatan itu, ada 55 nama. Namun hingga kini, polisi belum menemukannya.

Guru besar krimonologi Universitas Indonesia Tubagus Ronny Nitibaskara melihat ini adalah sebuah bentuk penyimpangan. Dia menduga, baik Vahey dan Emon memiliki kepuasan dengan melihat foto korban atau mengetahui nama-nama korbannya.

Hukuman

Vahey tak sempat menjalani hukuman karena sudah lebih dulu bunuh diri bulan Maret lalu. Bila dia masih hidup, maka vonis berat pasti menantinya.

Sementara Emon kini terancam hukuman 15 tahun penjara. Dia dijerat dengan Pasal 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 292 KUHP tentang Perbuatan Cabul juncto Pasal 64 KUHP tentang Perbuatan Kejahatan yang Dilakukan Secara Berulang.

Namun, seiring dengan terus bertambahnya jumlah korban, desakan untuk menghukum Emon lebih tinggi pun muncul. Sebagian kalangan beranggapan, hukuman maksimal 15 tahun bui tidak cukup untuk memberi efek jera, terlebih lagi jumlah korbannya yang mendekati angka 100.

Hukuman

Vahey tak sempat menjalani hukuman karena sudah lebih dulu bunuh diri bulan Maret lalu. Bila dia masih hidup, maka vonis berat pasti menantinya.

Sementara Emon kini terancam hukuman 15 tahun penjara. Dia dijerat dengan Pasal 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 292 KUHP tentang Perbuatan Cabul juncto Pasal 64 KUHP tentang Perbuatan Kejahatan yang Dilakukan Secara Berulang.

Namun, seiring dengan terus bertambahnya jumlah korban, desakan untuk menghukum Emon lebih tinggi pun muncul. Sebagian kalangan beranggapan, hukuman maksimal 15 tahun bui tidak cukup untuk memberi efek jera, terlebih lagi jumlah korbannya yang mendekati angka 100.

Halaman 2 dari 12
(mad/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads