Mengupas Pemicu Perilaku Kekerasan Antar Anak-anak di Sekolah

Mengupas Pemicu Perilaku Kekerasan Antar Anak-anak di Sekolah

- detikNews
Selasa, 06 Mei 2014 05:18 WIB
Jakarta - Renggo Kadafi (11) menjadi korban kekerasan yang dilakukan kakak kelasnya, S, hingga meninggal dunia. Perilaku kekerasan usia anak-anak ini kembali menambah panjang daftar kekerasan di sekolah. Namun mengapa hal itu bisa kembali terulang?

Menurut pakar perkembangan anak dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia IPB, Dwi Hastuti, perilaku S memukuli Renggo, hanya karena makanan ringannya terjatuh setelah bersenggolan, diduga karena adanya gangguan daya pikir.

"Dugaan saya, anak pelaku ini memiliki gangguan terkait daya pikirnya, apakah kemungkinan otaknya teracuni berbagai stimulasi seperti informasi dan pengetahuan yang membenarkan perilaku kekerasan," ujar Dwi melalui surat elektronik, Senin (5/5/2014) malam.

Informasi tersebut, menurut Dwi, bisa diterima si anak melalui pengamatan atas lingkungan tinggalnya. Dwi memberi contoh seperti siaran televisi, komik, perilaku serupa dari kakak kelasnya, video game, atau hal lainnya.

"Perilaku kejam pada seorang anak, layaknya perilaku orang dewasa, adalah perilaku yang keji dan tidak pantas dilakukan seorang anak usia kelas 5 SD, yang berusia sekitar 10-11 tahun. Mestinya diusia sekolah ini anak anak berada pada fase industri, ketekunan dan kerajinan yang terasah," ujar Dwi.

Namun ada faktor lain yang mendorong anak-anak berperilaku agresif dan merugikan orang di sekitarnya. Faktor itu, disebut Dwi, berupa kebiasaan di rumah yang penuh kekerasan, teman bermain yang juga kerap melakukan kekerasan, sekolah yang tidak aman, adanya ancaman, sekolah dirasakan bukan tempat yang menyenangkan untuk belajar, tekanan dari orangtua atau pendidik yang tidak dapat memahami kapasitas pikirnya yang terbatas.

"Banyak anak di sekolah yang saat ini juga stres atas segala macam hal terkait keinginan orangtua dan guru untuk menjadi rangking terbaik, nilai terbaik dan lain-lain. Yang tak dapat dipenuhi anak, kemudian anak menjadi frustasi, stres dan tidak percaya diri. Anak mengalami kegelisahan dan tekanan yang memicu adrenalinnya, jantung berdebar kencang, nadi berdenyut lebih cepat," ujar Dwi.

"Sehingga adanya sedikit pemicu (trigger) seperti senggolan atau menumpahkan minuman dibalas dengan pukulan. Jadi anak-anak kita saat ini mengalami ketidakseimbangan hormonal yang terus menerus. Lingkungan yang stres, ruang bermain dan waktu bermain yang kurang, mata dan pikiran yang lelah, sehingga terjadi 'emotional hijacking' pada diri anak tersebut," tambah Dwi.

(vid/dnu)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini