Staf Khusus Presiden bidang Hubungan Internasional, Teuku Faizasyah mengatakan, pemerintah Indonesia memaklumi dan tak menjadikan hal tersebut sebagai persoalan besar.
"Memaklumi, ini kan sifatnya konferensi regional, tidak selalu bisa menghadiri undangan yang sifatnya regional conference. Walaupun kita tangkap indikasi awal kita bisa datang tapi belum sampai pada formalisasi. Kalau kemudian kita dengar pembahasan budget di parlemen (Australia), itu sesuatu yang kita ketahui masih tentative," ujar Faizasyah saat ditemui di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Senin (5/5/2014).
Dia juga menampik dugaan Abbot tak menghadiri acara karena hubungan Indonesia dan Australia dalam kondisi tak nyaman.
"Kalau pernyataan resmi, tidak bisa memenuhi undangan. Dan berharap bisa dilakukan dalam waktu lain, itu yang kita tangkap sebagai statement resmi. Tidak mau menukik ke hal lain yang tidak terbuka, mungkin ada hal yang dibahas tertutup," jelasnya.
Menurutnya, momentum konferensi regional tersebut dapat dimanfaatkan untuk pertemuan kedua kepala pemerintahan sebagai langkah untuk mencairkan ketegangan yang terjadi. Walaupun saat ini Abbott tak dapat hadir, Faizasyah mengatakan, secara prinsip Indonesia telah mempersiapkan waktu pertemuan di lain kesempatan.
"Sebenarnya momentum konferensi regional ini bisa dimanfaatkan untuk pertemukan kedua kepala pemerintahan. Tapi tidak seperti yang dibayangkan karena Abbot tidak bisa datang ke Indonesia. Dalam konteks penyelenggaraan konferensi yang bersifat global dan regional , pemerintah mengalokasikan waktu sekiranya kepala negara atau kepala pemerintahan bisa dialokasikan waktu untuk pertemuan. Secara prinsip sudah disiapkan waktu-waktu itu," tutupnya.
Menurut media Australia, Australian Broadcasting Corporation (ABC), kunjungan PM Abbott ke Bali dibatalkan karena adanya kapal pencari suaka yang dicegat di perairan antara Indonesia-Australia di bawah kebijakan 'Operation Sovereign Borders', yakni kapal-kapal pencari suaka yang hendak ke Australia, diusir ke wilayah Indonesia.
Mengutip seorang sumber pemerintahan Australia, ABC menyebut adanya ketakutan bahwa misi tersebut akan memalukan di hadapan Presiden Yudhoyono jika PM Abbot tetap melakukan kunjungan. Sumber tersebut enggan menjelaskan lebih detail mengenai insiden tersebut dengan alasan keamanan.
Sementara itu, kelompok oposisi Australia, yakni Green Party dan Partai Buruh mendesak PM Abbott untuk mengungkapkan alasannya membatalkan kunjungan ke Indonesia. Kelompok oposisi menuding PM Abbott sengaja memperburuk hubungan dengan Indonesia jika tetap tak mengungkapkan alasannya.
(rni/nwk)











































