"Enggak dong (ikut dibersihkan). Nanti kalau emasnya dibersihin terus kalau hilang emasnya gimana, saya digantung," kata Rini ketika ditemui di ruang kerjanya di Monas, Jakarta Pusat, Senin (5/5).
Rini berujar bagian emas di puncak monumen setinggi 132 meter itu selama ini tak bisa disentuh oleh sembarangan orang. Menurutnya hanya orang tertentu yang bisa membuka pintu akses ke bagian bersebut.
Bahkan, dia juga mengaku sebagai pengelola, tak pernah ada pembersihan rutin di bagian emas Monas, kecuali untuk bagian tata lampu di bagian puncak.
"Iya dong, kan tidak sembarangan itu. Untuk akses ke atas juga enggak semua orang bisa ke atas, hanya tertentu, kita tidak bisa membuka pintu begitu saja. Kita sangat berhati-hati khususnya masalah emas, harus benar-benar ahlinya, enggak bisa sembarangan, apalagi mau me-lap," ujarnya.
Tugu Monumen Nasional (Monas) akan 'dimandikan' selama dua pekan mulai hari ini hingga 18 Mei. Prosesnya peresmiannya sudah dimulai sejak hari ini, yakni berupa pemotongan tumpeng disertai pemasangan alat.
Proses pembersihan ini adalah CSR dari perusahaan peralatan teknologi pembersih asal Jerman, Kaercher Indonesia. Secara terpisah, Roland Staehler, General Manager Kaercher Indonesia, berujar bagian emas tugu Monas tak dibersihkan dengan alasan tak kondisinya tak terlalu kotor.
"Bukan karena takut rusak. Kami yakin bisa bersihkan dengan baik tanpa rusak emasnya. Tapi kita tidak bersihkan emasnya karena enggak ada masalah serius. Untungnya, bagian emasnya tak terlalu kotor. Mungkin karena selama ini dibersihkan dengan baik oleh hujan. Fokus kita di bagian bawah yang kotor, yang tidak bisa tersentuh oleh air hujan," ungkapnya.
(ros/ndr)










































