Predator Seks Vahey dan Emon 'Rajin' Dokumentasikan Korbannya, Kenapa?

Predator Seks Vahey dan Emon 'Rajin' Dokumentasikan Korbannya, Kenapa?

- detikNews
Senin, 05 Mei 2014 16:14 WIB
Predator Seks Vahey dan Emon Rajin Dokumentasikan Korbannya, Kenapa?
Jakarta - Predator seks William James Vahey dan Andri Sobari alias Emon memiliki kesamaan, terutama dalam urusan dokumentasi korban. Vahey mengumpulkan foto korban di USB miliknya, sementara Emon mengaku mencatat para korban di buku catatan harian.

Nama Vahey muncul setelah ramai terkuaknya kasus kekerasan seksual di TK Jakarta International School (JIS). Dia dipastikan pernah mengajar di sekolah ternama itu selama 10 tahun. Salah seorang pelaku sodomi ke siswa JIS, Zainal, mengaku pernah menjadi korban sang predator saat masih berusia remaja.

Menurut pihak FBI, ulah Vahey terbongkar saat dia mendapat kontrak mengajar di American Nicaraguan School pada Maret 2014. Saat itu pembantu rumah tangganya menemukan USB yang berisi gambar-gambar pornografi anak remaja pria.
 
Kasus ini kemudian dilaporkan oleh FBI. Dua hari setelah FBI memegang surat penggeledahan komputer Vahey, pria 64 tahun itu memilih bunuh diri pada 21 Maret 2014 di sebuah motel di Minnesota, AS. FBI kemudian meminta publik membantu mengindentifikasi para korban Vahey, yang diduga sedikitnya berjumlah 90 anak.


Sementara di Sukabumi, ada nama Emon yang juga mendokumentasikan korban-korbannya. Kepada detikcom, dia mengaku ada buku harian yang selalu dibawanya saat melakukan sodomi. Di catatan itu, ada 55 nama. Namun hingga kini, polisi belum menemukannya.

"Ya, saya punya catatan nama anak-anak yang sudah saya ebol (sodomi). Tapi nggak semuanya saya catat, ya hanya anak tertentu saja," kata Emon di Mapolres Sukabumi.

Guru besar krimonologi Universitas Indonesia Tubagus Ronny Nitibaskara melihat ini adalah sebuah bentuk penyimpangan. Dia menduga, baik Vahey dan Emon memiliki kepuasan dengan melihat foto korban atau mengetahui nama-nama korbannya.

"Bisa jadi ada kenikmatan tersendiri," ungkap Ronny saat berbincang dengan detikcom, Senin (5/5/2014).

Ada beberapa kasus yang menunjukkan, dokumentasi tersebut juga terkadang dijadikan alat untuk meraih kepuasan seksual lanjutan, selain perbuatan paedofilia itu sendiri. "Dia juga mungkin penasaran, kapan berbuat dan siapa saja korbannya," imbuhnya.

Ronny menambahkan, anak-anak memang rentan jadi korban predator seks semacam Vahey dan Emon. Mereka tidak mampu melampiaskan hasrat seksualnya pada orang dewasa dan menyasar anak-anak yang lebih mudah dijadikan korban.

"Karena itu, harus dijaga selalu anak-anak. Anak jalanan juga rentan," tegasnya.

Kriminolog UI lainnya M Irvan Olii menambahkan, para pelaku kejahatan seksual itu sengaja mendokumentasikan korbannya sebagai bagian dari sikap manusia yang suka membanggakan diri. "Sama seperti kita selfie," imbuhnya.

(mad/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads