LPj Akbar Tandjung Jelaskan Soal Pemecatan Fahmi Idris cs
Kamis, 16 Des 2004 21:25 WIB
Denpasar -
Ketum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung menyampaikan laporan pertanggungjawaban (LPj) dalam Rapat Paripurna II Munas VII Partai Golkar. Dalam LPj-nya, Akbar membeberkan kemenangan Golkar pada Pemilu Legislatif 2004 serta pemecatan Fahmi Idris cs. LPj itu dibacakan Akbar di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Kamis (16/12/2004) malam. Menurut Akbar, kepengurusan yang dipimpinnya telah menjalankan keputusan Munaslub Partai Golkar 1998 yang dirangkum dalam Panca Sukses yaitu, sukses konsolidasi, sukses penanggulangan krisis dan pemulihannya, sukses agenda reformasi, sukses SI MPR 1998, Pemilu 1999 dan SU MPR 1999 serta sukses Pembangunan Nasional. "Kerja keras dan pengabdian saya dalam kunjungan kerja ke daerah dalam rangka melakukan konsolidasi Alhamdullilah telah membuahkan hasil yakni Partai Golkar menjadi pemenang Pemilu 2004," ujarnya. Ia memaparkan, pada Pemilu 1999, Golkar hanya menang di 14 dari 27 provionsi di Indonesia. Sedangkan pada Pemilu 2004, Golkar berhasil menguasai 26 dari 32 provinsi yang ada. Selain itu, DPP juga telah menyusun platform partai yang disiapkan Balitbang. Pada kesempatan itu, Akbar juga menjelaskan soal Koalisi Kebangsaan. Dikatakan Akbar, koalisi itu sebagai strategi untuk memperkuat institusi DPR. "Keinginan kita tidak lain untuk memperkuat kelembagaan demokrasi. Oleh karena itu kita melakukan langkah membangun koalisi dengan yang lain," katanya. Koalisi kebangsaan, lanjut Akbar, telah berhasil memperjuangkan Agung Laksono menjadi ketua DPR. Hal itu membuktikan Koalisi Kebangsaan menghasilkan sejumlah kemajuan, tidak hanya bagi Golkar tetapi juga dalam konteks kekuatan penyeimbang di DPR. Soal pemecatan sejumlah fungsionaris, menurut Akbar dilakukan karena situasi mendesak. Ia beralasan, para fungsionaris itu tetap bersikukuh dengan pendiriannya dan tidak menunjukkan itikad mematuhi teguran yang disampaikan. Sekadar diketahui, Fahmi cs dianggap tidak mematuhi keputusan DPP yang mendukung pencalonan Megawati-Hasyim Muzadi pada pilpres lalu. Sebelum Akbar menutup pidato LPj, diputar film dokumenter pendek yang mengisahkan sejarah Golkar mulai 1998 saat jatuhnya Presiden Soeharto hingga terpilihnya Agung Laksono sebagai ketua DPR. Usai menonton film tersebut, nada suara Akbar langsung menurun."Partai Golkar yang dulu sempat menuai hujatan, intimidasi dan pembakaran kantor dimana-mana, tapi Alhamdulillah kini telah bangkit kembali berkat kerja keras kita semua," tuturnya.
(asy/)










































