UN SMP Hari Pertama Membingungkan, Ada Pelajar yang Sampai Menangis

UN SMP Hari Pertama Membingungkan, Ada Pelajar yang Sampai Menangis

- detikNews
Senin, 05 Mei 2014 14:57 WIB
UN SMP Hari Pertama Membingungkan, Ada Pelajar yang Sampai Menangis
ilustrasi
Jakarta - Ujian nasional (UN) hari pertama bagi siswa SMP ini jauh dari kata sempurna. Banyak catatan dalam pelaksanaan UN kali ini. Mulai dari terlambatnya soal sampai ketidaklengkapan soal dan jawaban.

Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti dalam siaran pers, Senin (5/5/2014) menyampaikan, lembaganya kembali membuka posko pengaduan UN untuk SMP. Pada pukul 07.50 wib, masuk satu laporan dari Bekasi, Jawa Barat terkait soal UN mata pelajaran Bahasa Indonesia yang soalnya banyak di ralat dan dimasukkan dalam amplop yang berbeda.

"Bagi FSGI, temuan ini menjadi catatan yang penting dan genting untuk di pertanggungjawabkan oleh Mendikbud, bukan hanya secara teknis tetapi juga secara prinsip," ujar Retno.

Tidak sekedar soalnya terpisah amplop, tapi banyak juga siswa yang soalnya tidak lengkap dan pengawas ruang tidak bisa melakukan apa-apa.

"Banyak peserta didik khawatir tidak lulus karena antara bercode dengan soal berbeda. Ada kasus seorang siswa di Bogor, soal yang di dapatnya tidak ada no 38, sementara di lembar jawaban ada no 38. Masih pada wilayah yang sama, ada siswa yang soalnya tidak ada no 13 dan 14, padahal dilembar jawaban ada no 13-14. Siswa yang bersangkutan sampai menangis setiba di rumahnya," timpal Ketua Forum Musyawarah Guru Jakarta Heru Purnomo.

Pihak FSGI juga menemukan fakta bahwa sejumlah guru pengawas dan tiga kepala sekolah dari berbagai daerah melaporkan bahwa soal bahasa indonesia SMP terpisah dalam 2 amplop berbeda. Amplop pertama adalah sampul bersegel yang hanya berisi soal UN nomor 13 s/d 38, sedangkan nomor soal yang lainnya nomor 1-12 dan no 39-50 ada diluar sampul bersegel.

"Banyak pengawas kebingungan begitupun para peserta UN bahkan banyak yang menangis karena takut tidak lulus. Uniknya, ada surat instruksi yang ditujukan kepada kepala sekolah untuk tidak dibolehkan membocorkan kondisi tersebut kepada pihak ketiga," tegas Koordinator Posko Pengaduan FSGI Fachrudin.

Menurut Retno, FSGI memperkirakan sedikitnya ada 6 dampak dari kasus ini, yaitu sebagai berikut:

1. Para pengawas ruang dan para peserta UN menjadi bingung. Kebingungan juga melanda sejumlah panitia sekolah, sehingga proses memahami situasi ini memakan waktu yang berlarut-larut sehingga siswa dirugikan.

2. Peserta didik menanggung beban psikologis di hari pertama UN, dan hal ini tidak pernah di perhitungkan oleh para pengambil kebijakan. Anak didik kembali menjadi korban ketidakprofesional pemerintah untuk kesekiankalinya.

3. Para kepala sekolah SMP menilai bahwa pengambil kebijakan teknis dalam pergantian soal UN SMP tidak memahami psikologis anak. Kegalauan peserta UN sangat dipahami para Kepala Sekolah karena mereka paling tahu kondisi para siswanya.

4. Ada potensi kebocoran soal karena ada soal terpisah dan tidak dalam sampul bersegel, padahal naskah soal UN merupakan dokumen rahasia negara.

5. Ada dugaan kuat bahwa soal direvisi karena sebelumnya masih terdapat soal tentang Jokowi di UN SMP. Hal ini menunjukkan UN tidak dipersiapkan dengan matang, padahal ini pekerjaan rutin selama bertahun-tahun.

6. Ada dugaan dan potensi korupsi dari pengadaan dan percetakan soal yang dibilai banyak pihak sangat tidak profesional. Hal ini harus diusut tuntas oleh inspektorat Kemdikbud.

"Bagi FSGI kasus temuan ini di hari pertama makin menunjukkan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) memang tidak profesional dalam menyelenggarakan UN. Soal UN SMP pelajaran bahasa Indonesia juga diragukan validitas dan kerahasiaannya," tutup Retno.


(ndr/mad)


Berita Terkait