Amankan Selat Malaka, Jepang Tawarkan RI Bantuan Senjata
Kamis, 16 Des 2004 19:05 WIB
Jakarta - Pemerintah Jepang menawarkan bantuan persenjataan untuk Indonesia guna pengamanan Selat Malaka. Namun bantuan tersebut harus atas persetujuan Singapura dan Malaysia.Hal ini disampaikan oleh Menteri Perdagangan Jepang Shoichi Nakagawa kepada wartawan, usai menemui Presiden SBY di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/12/2004). Menurut Nakagawa, peningkatan keamanan di Selat Malaka merupakan salah satu materi pembicaraannya dengan presiden."Pemerintah Jepang memiliki ide untuk memberi bantuan persenjataan guna mengamankan Selat Malaka. Namun bantuan persenjataan tersebut harus atas persetujuan tiga negara pantai yang bertanggung jawab terhadap keamanan Selat Malaka, yaitu Indonesia, Singapura, dan Malaysia," kata Nakagawa.Menurut Nakagawa, dasar pemikiran dari tawaran tersebut adalah Jepang merasa dirugikan dengan pembajakan kapal tanker dan kapal barang miliknya saat melewati Selat Malaka. "Kapal yang dibajak kebanyakan tidak ketahuan lagi rimbanya. Hal ini tentu merugikan kepentingan perdagangan Jepang dalam ekspor impor di kawasan Asia Tenggara," ujarnya.Sebelumnya, Nakagawa menjelaskan, konstitusi Jepang tidak memungkinkan negara tersebut mengadakan ekspor persenjataan. "Namun baru-baru ini ada perubahan konstitusi yang memungkinkan Jepang untuk memberikan bantuan peralatan persenjataan. Nantinya tiap permintaan akan diteliti lebih dulu kasus per kasus," katanya.Dalam kesempatan terpisah, jubir kepresidenan Dino Pati Djalal menyatakan Presiden akan membicarakan tawaran tersebut dengan Panglima TNI, Kapolri dan Menteri Pertahanan. "Nanti akan dibicarakan bersama-sama bantuan apa saja yang dibutuhkan Indonesia. Kemudian hasilnya akan dikomunikasikan dengan pemerintah Jepang," jelas Dino.Yang penting, menurut Dino, kedua negara harus sepakat bahwa yang bertanggung jawab terhadap pengamanan Selat Malaka adalah tiga negara pantai, yakni Indonesia, Singapura dan Malaysia.Tingkatkan InvestasiMenurut Nakagawa, materi lain yang juga dibahas dalam pertemuannya dengan presiden adalah tentang investasi. "Pemerintah Jepang memiliki minat yang besar untuk kembali berinvestasi di Indonesia. Apalagi setelah melihat pemerintah baru dan perkembangan politik yang kondusif," ujarnya.Pada masa sebelum krisis ekonomi, nilai total investasi Jepang di Indonesia mencapai 300 miliar yen.Tapi saat ini menurun hingga tinggal 70 miliar yen, karena banyak investor yang hengkang dari Indonesia. Salah satu perusahaan besar yang menarik investasinya adalah Sony. "Kini banyak investor yang ingin kembali ke Indonesia. Sedangkan yang sudah ada juga akan meningkatkan investasinya. Namun pemerintah harus melakukan penyegaran dalam iklim investasi," demikian Nakagawa.
(ast/)










































