"Cocok enggak cocok, Gerindra tentunya menyerahkan koalisi yang ada. Bukan keputusan Gerindra lagi sekarang. Dengan catatan, koalisi itu harus hitungan-hitungan, bukan cuma kepentingan sesaat. Setiap kita buka koalisi dengan partai lain, Gerindra juga harus ikuti kesepakatan koalisi itu," kata Desmond saat dihubungi detikcom, Senin (5/5/2014).
Dia menegaskan, Gerindra tidak ingin menyakiti hati mitra yang berpotensi besar masuk dalam koalisi dengan menyimpulkan pasangan terbaik buat Prabowo. Apalagi, kata dia, kemungkinan besar Gerindra membuka peluang untuk berkoalisi dengan Golkar. Hal ini terlihat dari pertemuan kembali antara Prabowo serta Ical hari ini di kediaman mantan Komandan Jenderal Kopassus itu di Hambalang, Bogor.
"Maka soal ini akan kita bicarakan dengan mitra koalisi. Kita enggak mau menyakiti mitra koalisi yang lain. Prinsipnya kita ingin hati-hati. Jadi, sulit kalau ditanya lebih baik berpasangan dengan Akbar Tandjung atau Aburizal Bakrie," sebut Anggota Komisi III DPR itu.
Disinggung konsolidasi internal Partai Golkar yang masih meragukan, dia yakin kalau partai pohon beringin itu bakal tetap eksis. Sebenarnya, kata Desmond, Gerindra sudah cukup berkoalisi dengan PKS karena gabungan angkanya meyesuaikan batas ambang minimal atau gabungan parpol untuk Presidential Threshold yaitu minimal 112 kursi.
"Kalau PKS Insya Allah. Ya, pada prinsipnya kita kan tidak mau menyakiti partai lain yang mau gabung dengan kita. Lebih hati-hati lah. Jangan sampai ada proses menyakiti," ujar politikus kelahiran Banjarmasin, 12 Desember 1965 itu.
Adapun sebelumnya, sejumlah pengamat dalam diskusi Freedom Foundation, Minggu kemarin menyebut kalau Prabowo Subianto lebih baik berpasangan dengan Akbar Tanjung. Sosok Ical lebih baik disebut bukan untuk capres atau cawapres melainkan sebagai king maker atau berada di belakang layar pemerintahan.
(hat/erd)











































