"Kalau mau bangun salah satu, idealnya didahulukan yang paling padat. Dulu yang padat memang Selatan-Utara, tapi setelah 20 tahun, yang harus dibangun duluan seharusnya Timur-Barat, karena akan menolong lebih banyak," kata Ahok kepada wartawan di Balai Kota DKI, Jakarta Selatan, Senin (5/5).
Mantan Bupati Belitung Timur itu beralasan, dalam perkembangan terakhir ini, jumlah perumahan di kawasan Barat dan Timur Jakarta berkembang cepat. Begitu pun kendaraan yang masuk ke Jakarta, lebih banyak dari Timur-Barat yakni dari Bekasi dari Tangerang.
"Apalagi yang dari selatan kan sudah dilayani loopline kereta api. Tapi kita nggak bisa batalkan pembangunan Selatan-Utara karena ada commitment fee," tegasnya.
MRT jalur Timur-Barat belum bisa dimulai hingga saat ini, sementara jalur Selatan-Utara sudah berlangsung sejak Oktober lalu. Menurut Ahok hal itu karena ketiadaan kajian MRT di jalur tersebut.
"Idealnya kalau dibangun ya dua-duanya ada, Selatan-Utara ada, Timur-Barat ada. Bukan dibangun salah satu saja. Cuma Timur-Barat kajiannya tidak ada. Daripada tidak ada yang dibangun ya kita teruskan saja yang Selatan-Utara," jelasnya.
Hal ini dinyatakan Ahok karena sebelumnya dia mendapat tuntutan dari sekelompok warga di jalan Fatmawati yang meminta agar pembangunan MRT Selatan - Utara dibatalkan.
"Mereka (Warga Fatmawati) lucu, suruh batalin. Walaupun seharusnya yang didahulukan Timur - Barat, bukan berarti jadi membatalkan Selatan - Utara. Idealnya kalau dibangun dua-duanya ada. Malah kalau bisa Selatan-Utara ada 3-4 rute, Timur-Baratnya juga 3-4 rute. Maunya kita seperti itu," ungkap Ahok.
(ros/mad)











































