M. Nuh tiba di SMP 285 jam 09.50 WIB, Senin (5/5/2014). Dari dermaga kapal, M Nuh hanya berjalan kaki menuju sekolah yang hanya berjarak 500 meter.
Sesampainya di sekolah, ia langsung menuju salah satu ruang kelas yang ditempati siswa ujian. Dari pintu kelas, ia memanggil pengawas untuk keluar agar tak mengganggu proses ujian.
"Nggak ada yang menyontek? Aman kan?," tanya M Nuh pada pengawas.
"Aman pak," jawab guru pengawas.
Ia lalu meninjau kelas lain yang ditempati ujian. Saat itu, lonceng sekolah berbunyi tanda waktu ujian telah usai. Siswa mulai bergegas mengumpulkan soal dan bergegas keluar.
Saat itu, M Nuh sempat berbincang dengan 5 orang siswa yang sedang berkumpul menunggu kawannya yang lain.
"Bagaimana? Ada yang susah?," tanya Nuh.
Alhamdulillah nggak pak. Soalnya sudah ikut try out dari sekolah juga," jawab salah satu siswa, Lestari.
"Ada bocoran soal tidak?," tanya Nuh lagi.
"Nggak ada pak. Lagi pula malu dan nggak seru pak," jawab siswa lainnya, Siti Nur Aini.
"Wah bagus ini. Jadi nggak usah ada bocoran ya. Malu dan nggak seru. Kalau ada soal yang susah itu tantangan. Bagus, semoga semuanya lulus ujian," ujar M Nuh.
Percakapan tersebut berlangsung cukup lama. M Nuh menanyakan dimana siswa-siswi ini akan melanjutkan sekolah setelah lulus SMP. Jawaban yang diterimanya pun beragam. Ada yang ingin melanjutkan ke pesantren, SMK dan menyasar SMA unggulan di Jakarta.
"Semuanya harus melanjutkan sekolah. Jangan sampai, maaf, selesai sekolah lantas langsung menikah," ujar Mendikbud ini.
Di SMP 285 sendiri, siswa yang mengikuti UN SMP berjumlah 23 orang. Mereka dibagi menjadi 2 kelas. Di sore hari, sekolah ini juga akan dipakai untuk ujian paket B.
Sebelum ini, ia meninjau SMP 241 dan MTSn 26 di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta.
(bil/ndr)










































