Dokumen WikiLeaks 2006 Sebut Hadi Poernomo 'Pejabat Pajak Terkorup'

Dokumen WikiLeaks 2006 Sebut Hadi Poernomo 'Pejabat Pajak Terkorup'

- detikNews
Minggu, 04 Mei 2014 13:54 WIB
Dokumen WikiLeaks 2006 Sebut Hadi Poernomo Pejabat Pajak Terkorup
Jakarta - Nama mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo yang saat ini menjadi tersangka kasus pajak BCA ternyata sudah menjadi perhatian Amerika Serikat (AS). Dalam dokumen kawat rahasia yang dirilis WikiLeaks pada 29 April 2006, AS menyebut Hadi sebagai 'pejabat pajak terkorup'.

"Salah satu konsultan asing di Kemenkeu mendeskripsikan Purnomo sebagai 'the most corrupt in a long line of corrupt tax DG's' (Dirjen Pajak terkorup di antara Dirjen Pajak yang dinilai korup, red)," demikian tertulis dalam dokumen kawat rahasia berkode JAKARTA 00005420 002.2 OF 004 yang dibocorkan WikiLeaks yang dikutip detikcom, Minggu (4/5/2014).

Sedangkan konsultan asing lain, mengatakan, "Tuan yang tak tersentuh itu akhirnya terguling. Sangat menakjubkan".

Dokumen kawat dari WikiLeaks itu juga menuliskan bahwa reputasi Hadi Purnomo di kalangan komunitas bisnis sangat buruk. Kalangan pebisnis banyak mengeluhkan korupsi pajak administrasi di bawah kepemimpinan Hadi.

"Purnomo terkenal karena memiliki banyak taktik yang dilakukan dengan 'tangannya' yang kuat seperti mengancam pelarangan perjalanan para manajer pada perusahaan yang sedang diauditnya atau dengan menampilkan foto-foto properti dan kekayaan orang yang terlibat kasus pajak yang diperolehnya dari satelit," demikian ditulis dalam dokumen itu.

Hal itu menjadi catatan tentang buruknya reputasi Hadi dalam dunia bisnis. Di dalam dokumen itu juga disebutkan tentang karakter Hadi Purnomo yang korup, sombong dan arogan. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa di masa kepemimpinan Hadi, surat ketetapan pajak memaksa para pengusaha untuk bernegosiasi (dengan membayar suap).

"Surat ketetapan pajak meningkat menjadi norma, memaksa perusahaan untuk bernegosiasi untuk mendapatkan keputusan yang lebih masuk akal," lanjutnya.

Seorang sumber di Indonesia yang tak disebutkan namanya mengatakan bahwa Dirjen Pajak itu salah satu posisi lahan 'terbasah' di Pemerintah RI. "Dan Purnomo menggunakannya secara maksimal untuk kepentingan pribadinya. Dia bertahan di bawah 2 Presiden dan 4 Menteri Keuangan," demikian ditulis pengakuan sumber anonim di Indonesia itu.

Dokumen tersebut juga memuji kiprah Menkeu Sri Mulyani yang berani mengganti Hadi Poernomo dari Dirjen Pajak.

"Kemampuan Mulyani untuk menggeser Purnomo 5 bulan setelah terpilih mengkonfirmasi kesan kita bahwa di antara birokrat ekonomi di Pemerintahan RI, dia (Sri Mulyani) memiliki hubungan terkuat dengan SBY dan tampak paling berani mengambil risiko," tulis dokumen itu.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, KPK telah menetapkan Hadi Purnomo sebagai tersangka pada Senin 21 April 2014 terkait kasus pajak BCA.

Kasus ini berawal pada 17 Juli 2003 saat Bank BCA mengajukan keberatan pajak atas transaksi Non Perfomance Loan (NLP) senilai Rp 5,7 triliun kepada Direktur Pajak Penghasilan (PPh) Ditjen Pajak Kemenkeu. Bank BCA keberatan dengan nilai pajak yang harus dibayar karena nilai kredit macet mereka mencapai Rp 5,7 triliun.

Atas pengajuan keberatan tersebut, Direktorat PPh melakukan pengkajian dan penelaahan selama sekitar satu tahun. Hasil kajian tersebut adalah penolakan terhadap pengajuan keberatan PT Bank BCA.

Namun, Hadi yang saat itu duduk sebagai Dirjen Pajak pada 17 Juli mengirim nota dinas kepada Direktur PPh yang isinya adalah perintah untuk mengubah hasil kajiannya menjadi menerima seluruh permohonan PT Bank BCA. Padahal, jatuh tempo pembayaran pajak PT Bank BCA jatuh pada tanggal 18 Juli 2004 sehingga tak ada waktu lagi bagi Direktur PPh untuk menelaah.

Masalah lain adalah tahun pajak yang dibebankan kepada Bank BCA adalah tahun 1999. Namun, BCA baru mengirimkan surat keberatan pada 2003.

Sebelumnya dampak dari WikiLeaks ini membuat sang pendiri, Jullian Assange, bersembunyi di Kedutaan Besar Ekuador di London agar menghindari upaya ekstradisi ke Swedia.

Sedangkan anggota militer AS yang membantu WikiLeaks, Bradley Manning, divonis bui oleh hakim di mahkamah militer AS selama 35 tahun.

Manning dianggap bersalah membocorkan dokumen rahasia AS kepada situs internet Wikileaks. Pengadilan sebelumnya mempertimbangkan permintaan keringanan yang diajukan pengacara Manning pada bulan Maret.

Tahun lalu, seorang hakim militer menyatakan Manning bersalah melakukan kegiatan mata-mata dan pencurian karena pembocoran lebih 700.000 dokumen rahasia militer dan diplomatik.


(sip/nwk)


Berita Terkait