Rini Soewondho & Madam Tutut

Kesaksian Lionel Wilfred Steele

Rini Soewondho & Madam Tutut

- detikNews
Kamis, 16 Des 2004 17:25 WIB
Jakarta - Jika Rini Soewondho tidak pernah menyebut namanya, berbeda dengan saksi "bule" yang terang-terangan menyebut nama Mbak Tutut dalam pembelian 100 tank Scorpion pada 1992 lalu.Nama Mbak Tutut salah satunya disebut oleh Lionel Wilfred Steele. Berikut kesaksian lengkapnya seperti dilansir dalam situs The Guardian:Saya adalah Manajer Penjualan Internasional di perusahaan tergugat (Alvis). Saya membuat pernyataan ini atas nama Tergugat dan saya diberi wewenang untuk melakukannya.Latar belakangSaya pertama kali bekerja untuk Rover. Alvis dibeli oleh Rover pada sekitar tahun 1966. Pada tahun 1967, saya pindah ke Alvis dan di sana saya menjadi Senior Quality Control Engineer dan pada tahun 1968 Quality Manager, posisi yang saya pegang selama sekitar 12 tahun.Saya menghadiri pertemuan pada tahun 1993 dengan Jenderal Wismoyo, Kepala TNI AD, bersama-sama kolega saya, Nick Prest dan Trevor Harrison. Kami merupakan pemasok peralatan pertahanan pertama yang diterima olehnya menyusul penunjukan dirinya sebagai Kepala TNI AD. Di pertemuan itu, Jenderal Wismoyo mengatakan pada kami bahwa dia tertarik pada pembelian Scorpion. Ia tidak ingin membeli peralatan bekas dan dia tidak ingin peralatan yang diproduksi secara lokal (seperti yang sebelumnya diusulkan Dr Habibie). Jenderal Wismoyo awalnya ingin membeli sejumlah kecil dalam basis tahunan untuk memperkuat angkatan bersenjatanya dan juga mencegah agar tidak menarik perhatian Dr Habibie atau keluarga Presiden yang secara otomatis ingin dilibatkan dalam kontrak yang besar. PT Surya Kencana (PTSK) juga memberi tahu kami bahwa Presiden Soeharto, saat menyaksikan parade militer tahunan, telah mengatakan pada Jenderal Wismoyo ketika satu unit tank melintas, bahwa tank-tank ini merupakan tank yang sama yang pernah ia komando ketika ia masih menjadi perwira beberapa tahun sebelumnya. Ia menyarankan pada Jenderal Wismoyo bahwa tank-tank itu perlu diganti. Akan tetapi, anggaran tahunan untuk ABRI sangat kecil pada saat ini. Untuk melakukan pembelian besar, TNI harus mendapatkan apa yang disebut "on-top budget". "On-top budget" diperoleh dari dana pemerintah pusat dan harus disetujui oleh presiden. Salah seorang bawahan Jenderal Wismoyo, saya lupa siapa, mengusulkan pada Jenderal Wismoyo bahwa TNI memerlukan tiga batalion kendaraan dengan spesifikasi serupa dengan Scorpion. Satu batalion terdiri dari 50 kendaraan. Untuk memiliki kendaraan dalam jumlah itu TNI harus mendapatkan on-top budget. Kami tahu dari PTSK bahwa mungkin bagi TNI untuk memperoleh on-top budget untuk jumlah kendaraan ini. Selama akhir tahun 1993 kami didekati oleh sejumlah orang yang mengklaim bahwa merekalah satu-satunya yang bisa membawa kami menuju perolehan on-top budget untuk pembelian kendaraan-kendaraan kami. Rini Soewondho dari PTSK telah menjelaskan pada saya bahwa on-top budget hanya akan disetujui oleh Presiden jika dia didekati via salah satu perusahaan yang dia kenal dan percaya. Perusahaan-perusahaan yang mendekati kami semuanya mengklaim bahwa merekalah perusahaan tersebut. Sepanjang pengetahuan saya, tidak satu pun perusahaan ini yang punya link ke Penggugat (Chan U Seek).Rini menyarankan kami mengenai pemilihan perusahaan yang paling cocok dan atas rekomendasinya, kami menunjuk sebuah perusahaan bernama Global Select sebagai konsultan kami. Global Select dimiliki oleh Madam Tutut, putri Presiden Soeharto (dan juga kadang-kadang disebut sebagai "The Lady"). Peran dia adalah membujuk Presiden untuk menyetujui dikeluarkannya on-top budget dan kemudian mengupayakan berbagai institusi keuangan terlibat untuk melaksanakannya dan menyediakan dana tersebut. Melalui upaya-upaya PTSK dan Global Select, kami kemudian berhasil memperoleh persetujuan Presiden atas on-top budget untuk pembelian Scorpion. BAPPENAS, organisasi pemerintah yang bertanggung jawab untuk anggaran dan perencanaan, mengesahkn budget ini pada pertengahan tahun 1994. Kami belajar dua hal dari proses ini. Pertama, merupakan prasyarat untuk keberhasilan kontrak bahwa kami harus melakukan uji coba kendaraan-kendaraan tersebut. Kedua, karena anggaran besar diperlukan, maka ini harus didapatkan sebagai on-top budget.Negosiasi-negosiasiBegitu on-top budget diperoleh, kami kemudian memasuki pembicaraan teknis untuk memastikan detail peralatan yang akan kami pasok. Ini artinya bahwa TNI mempertimbangkan spesifikasi kendaraan Scorpion dan Stormer, berapa banyak kendaraan dari masing-masing varian yang mereka butuhkan, ekstra pilihan yang tersedia, amunisi, jasa pelatihan dan radio (termasuk pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan di berbagai level untuk kegiatan seperti pemeliharaan senjata, dll). Saat itu diusulkan agar beberapa pelatihan dilakukan di Inggris dan sebagian nantinya di Indonesia.Tahap negosiasi teknis adalah ketika seluruh paket disatukan. Negosiasi ini terjadi pada 31 Oktober 1994. Itu merupakan event satu hari saja. Negosiasi komersial kemudian terjadi pada 10 Desember 1994 dan sekali lagi ini merupakan event satu hari saja.Kontrak-kontrak TNI memutuskan bahwa mereka akan membeli kendaraan-kendaraan dari kami dalam dua tahun, 1995 dan 1996. Ini untuk alasan budget. Tadinya on-top budget untuk pembelian kendaraan kami adalah US$ 250 juta. Namun, ini kemudian dipotong menjadi US$ 125 juta karena TNI juga perlu memperbarui sejumlah pesawat untuk parade HUT ABRI yang ke-50 yang akan diadakan pada tahun 1995.Akibatnya, on-top budget berikutnya harus diperoleh untuk tahun 1996 ketika batalyon kedua dari kendaraan tersebut dibeli. Pada 1996 TNI juga ingin membeli satu batalyon kendaraan lain sehingga kami harus bersaing untuk mendapatkan pendanaan. Akan tetapi, kami berhasil memperoleh on-top budget melalui rute yang sama seperti sebelumnya. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa atas rekomendasi PTSK, kami menunjuk sebuah perusahaan baru, Basque, sebagai konsultan kami. Basque merupakan perusahaan lain yang dimiliki Madam Tutut dan dia mengatakan pada kami untuk menunjuk Basque sebagai konsultan kami, bukannya Global Select. Negosiasi teknis untuk kontrak kedua ini terjadi pada 20 Juni 1996, negosiasi komersial pada 10 Juli 1996 dan kontrak kedua ditandatangani pada 19 Agustus 1996.Saya yakin bahwa isi dari pernyataan ini adalah benar. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads