Newmont Keberatan Dituding Cemarkan Teluk Buyat

Newmont Keberatan Dituding Cemarkan Teluk Buyat

- detikNews
Kamis, 16 Des 2004 17:19 WIB
Jakarta - PT Newmont Minahasa Raya (NMR) menyatakan keberatan dengan hasil laporan Tim Teknis Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang menyatakan Teluk Buyat sudah tercemar. Tim tersebut dinilai salah interpretasi dan tidak memiliki landasan yang kuat. "Walaupun mereka sudah mengakui kadar logam berat pada ikan dan perairan di teluk buyat lebih rendah dari standar, laporan tim teknis ternyata tetap mengambil kesimpulan bahwa terjadi pencemaran," kata Vice President of Newmont Indonesian Operation Robert Gallagher dalam jumpa pers di Hotel JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta, Kamis, (16/12/2004).Karena itu, manajemen Newmont mengimbau pemerintah Indonesia mengundang pakar dan lembaga independen untuk mengkaji laporan Tim Teknis KLH mengenai Teluk Buyat."Kami tidak mempermasalahkan data-data lapangan yang dikumpulkan tim teknis karena memang konsisten dengan hasil pemantauan yang kami lakukan, namun kami sangat keberatan dengan interpretasi atas data-data tersebut," tegas Robert yang didampingi penasihat hukumnya Luhut Pengaribuan.Interpretasi dan asumsi yang digunakan tim tersebut dinilainya sangat bias, karena meski sudah mengakui kadar logam berat pada ikan di perairan Buyat lebih rendah dari standar, dalam laporannya Tim Teknis KLH tetap menyimpulkan adanya pencemaran.Sementara itu, Enviromental Mananger Newmont Imelda Adhi Saputra menegaskan, interpretasi dari KLH yang mengatakan ada pencemaran di Teluk Buyat tidak memiliki dasar, karena yang disebut pencemaran adalah jika hal itu menganggu kehidupan manusia, biota laut dan lingkungan hidup lainnya."Sedangkan bentuk arsenik dalam sedimen secara biologis tidak mengandung bahan kimia aktif dan tidak larut dalam air," tegasnya.Apalagi, lanjut dia, kadar arsenik sudah diprediksi dalam AMDAL juga sudah disetujui pemerintah. "Jadi dapat disimpulkan di Teluk Buyat tidak ada pencemaran," katanya.Karena itu, tegasnya lagi, pihak NMR sangat kecewa dengan laporan KLH yang menyatakan kadar arsenik pada sedimen melebihi standar ASEAN. Dia mengatakan, sebetulnya tidak ada standar mutu sedimen ASEAN yang telah disetujui atau disahkan sebagai standar Asean. Satu-satunya acuan untuk istilah ini adalah tulisan akademis dan tidak ada satu negara pun yang telah menerapkan hal ini sebagai sebuah standar.Mengenai laporan Tim Teknis KLH yang menyatakan ikan di Teluk Buyat tidak aman dimakan, Imelda mengatakan, justru kadar arsenik pada ikan di Teluk Buyat berada di bawah standar baku mutu WHO dan standar internasional.Selain itu, dia juga tidak setuju dengan metodologi yang dipakai Tim Teknis KLH untuk menghitung tingkat konsumsi ikan serta perhitungan risiko jangka panjang.Mengenai ditemukannya ikan-ikan benjol di Teluk Buyat, Imelda juga membantah dan menegaskan hal itu sebagai rekayasa belaka."Saya mengutip pernyataan dari Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia, Pak Yoyo yang telah melakukan penelitian di sana, dia tidak pernah mendapatkan ikan-ikan benjol. Ikan-ikan itu bisa saja dipesan untuk rekayasa. Kalau misalnya ikan itu benjol, maka organ tubuhnya rusak, tetapi yang ini organ tubuhnya bagus tetapi kulitnya saja yang rusak," tuturnya.Mengenai laporan Tim Teknis KLH yang menyatakan tidak menemukan termoklin yang diperlukan untuk menjaga sedimen pada tempatnya di atas kedalaman 82 meter, dan NMR berbohong, Imelda mengatakan, Termoklin itu merupakan pengaman tambahan dan ada di bawah kedalaman 82 meter.Dia juga menegaskan, sebetulnya dalam laporan tim teknis juga tidak disebutkan adanya definisi termoklin. "Jadi kami tidak setuju dengan interpretasi data tim terpadu seperti juga ketidaksetujuan lembaga lain seperti Universitas Sam Ratulangi, Universitas Islam Manado, Pemda Sulut dan Perhapi," katanya.Sementara itu, mengenai adanya 31 orang yang meninggal di sekitar Teluk Buyat, penasihat hukum NMR Luhut Pengaribuan membantahnya."Tidak ada satu pun warga yang meninggal. Memang ada satu bayi meninggal tetapi tidak ada hubungannya dengan aktifitas Newmont," ujar dia.Luhut lalu menganalogikan, jika ada bayi yang meninggal kenapa orang di laut justru tidak terkontaminasi. "Jadi ada proses politisasi terhadap gugatan penambangan Newmont," katanya. (umi/)


Berita Terkait