Strategi Akbar Cs: Dari Tatib Sampai Perut Lapar
Kamis, 16 Des 2004 17:09 WIB
Jakarta - Pengalaman matang dalam berorganisasi dan berpolitik membuat Akbar menuai kemenangan sementara. Kubu Akbar menampakkan wajah berseri-seri setelah sempat loyo. Sementara kubu Kalla berganti loyo dan harus merencanakan strategi ulang untuk bisa memenangkannya.Lebih dari 30 tahun makan asam garam dalam kancah politik, membuatnya matang menyusun strategi. Hal ini juga ditampilkan Akbar dalam Munas VII Partai Golkar di The Westin Hotel and Resort, Nusa Dua Bali yang dibuka hari ini, Kamis (16/12/2004). Sebelum hari ini, di atas kertas, Akbar sudah kalah dibanding dengan trio Kalla-Agung Laksono-Paloh, yang mengklaim didukung oleh 28 DPD. Namun, tiba-tiba Akbar melejit kembali setelah berhasil menyusun tata tertib yang disebut-sebut menguntungkan Akbar Tandjung.Kemengan sementara kubu Akbar dalam menyusun tata tertib (tatib) Munas, banyak disebut-sebut bagian dari strategi awal Akbar. Baik itu dalam menggolkan DPD II untuk ikut memberikan hak suara, maupun soal persyaratan pencalonan ketua umum Partai Golkar. Bagaimana kubu Akbar sampai bisa menggolkan pemberian hak suara kepada DPD II Golkar menarik untuk dicermati. Ide pemberian hak suara bagi DPD II Golkar datang pertama kali dari Wiranto. Ide ini didasari hasil Munaslub Golkar tahun 1998. Alasan lain, demi demokratisasi di tubuh partai beringin ini. Pada awalnya, ide Wiranto ini ditentang DPP Partai Golkar seperti tercermin dalam rapimnas partai Golkar, Senib (13/12/2004) lalu. Tentu, kekalahan di konvensi Partai Golkar membuat Akbar sangat hati-hati. Namun, peta politik yang berubah cepat membuat Akbar menyusun strategi ulang. Komunikasi politik dengan kubu Wiranto semakin intensif, dan pada ujungnya DPD II dilibatkan dalam pemilihan ketua umum. Strategi lain yang lebih jitu adalah mengenai persyaratan pencalonan ketua umum. Untuk menjegal lawan-lawan yang berasal dari 'pemain baru' maka dibuat persyaratan berlapis. Sang calon harus aktif minimal 5 tahun di DPP atau DPD, aktif berkontribusi positif selama minimal 10 tahun dan tidak terkait dengan partai lain.Nah, yang tak kalah menarik adalah bagaimana strategi persidangan. Agenda tata tertib merupakan pembahasan awal di sidang paripurna setelah acara pembukaan pada pukul 09.00 WITA. Setelah itu, pembahasan tata tertib dimulai. Sidang berjalan tertutup. Pada awalnya, sidang berjalan alot. "Sempat banyak terjadi interupsi, tapi satu persatu bisa diselesaikan tanpa masalah. Yang alot hanya soal pembahasan DPD II sebagai peninjau atau mempunyai hak pilih. Kedua, masalah pencalonan ketua umum yang dianggap menjegal calon-calon ketua umum lainnya," kata sumber detikcom yang ikut dalam sidang tertutup tersebut. Menjelang siang, sidang semakin memanas. Perdebatan-demi perdebatan terus berlangsung. Namun tetap terus berjalan. Sampai pada akhirnya, lewat tengah hari sidang masih debat kusir. "Situasi berubah sejak pukul 13.30 WITA. Tampaknya banyak peserta yang sudah kecapekan, terutama lapar. Soalnya tidak boleh makan siang, apalagi harus gantian juga tak boleh. Harus keluar sama-sama setelah acara pembahasa tata tertib selesai. Jadilah palu ketua sidang tak-tok-tak-tok memutuskan materi tatib yang alot," tambahya.Memang, makanan disediakan pihak hotel sejak pukul 12.00 WITA. Namun panitia pengatur sidang cukup cerdik untuk membuat peserta cepat lapar, yakni menutup tempat makan sampai usai sidang selesai. Usai sidang, para peserta sidang langsung menyerbu hidangan makan siang. Laparrrr!
(asy/)











































