Sutarman mencopot Kapolda Kalbar Brigjen Pol Arie Sulistyo serta dua Dirlantas yakni Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol R Nurhadi Yuwono dan Dirlantas Polda Jatim Kombes Pol Rahmat Hidayat. Khusus untuk dua Nurhadi dan Rahmat, keduanya digeser terkait operasi senyap Propam Polri di dua wilayah Polda itu.
"Kapolri Jenderal Sutarman perlu mendapat apresiasi atas ketegasannya mencopot perwira tinggi dan perwira menengah Polri yang menyalahgunakan jabatannya. Itu sekaligus sebagai peringatan pada anggota Polri lainnya agar mengutamakan integritas dan profesionalisme dalam melaksanakan tugas-tugasnya," ujar pengamat kepolisian Aqua Dwipayana saat dihubungi detikcom Jumat (2/5/2014).
Menurut kandidat doktor Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung ini, dia tidak merasa kaget dengan pencopotan tersebut, sebab sudah mendengar rencana itu sejak beberapa waku lalu. Aqua yang lima tahun terakhir intens mengamati Polri dan banyak bergaul dengan jajaran Polri termasuk para perwira tingginya, sangat menyayangkan Kapolda Kalbar Brigjen Pol Arie Sulistyo yang tidak belajar dari pejabat pendahulu yang digantikannya karena diduga terlibat kasus yang sama.
"Semoga Kapolda Kalbar yang baru Brigjen Pol Arief Sulistyanto lebih waspada, hati-hati, dan mawas diri sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mudah-mudahan beliau sukses melaksanakan amanah yang diberikan kepadanya," ujar Aqua yang pernah mengajar Komunikasi di Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri ini
Dalam pengamatannya, khusus di Korps Lalu Lintas, mutasi yang melibatkan banyak pejabat di jajaran Direktorat Lalu Lintas merupakan yang pertama kali terjadi di Polri. Apalagi hal tersebut terjadi di dua Polda tipe A di Jawa yang termasuk Polda besar yakni Polda Metro Jaya dan Polda Jatim.
Tidak hanya Dirlantas saja yang dimutasi, tetapi Wadirlantas dan para Kasinya juga dipindah ke Polda-Polda di wilayah Indonesia Timur sebagai perwira menengah yang tidak memiliki jabatan apa-apa. Itu sebagai bentuk hukuman kepada mereka yang dianggap bersalah.
"Dalam hal ini Kapolri Jenderal Sutarman sangat tegas. Jarang terjadi pejabat Ditlantas di dua Polda tersebut dimutasi sekaligus tanpa pandang bulu. Ini seperti "cuci gudang" atau "bedol deso". Pak Sutarman sepertinya sangat marah dengan perilaku negatif para pejabat di dua Ditlantas tersebut. Sehingga tanpa ada kompromi memindahkan semuanya dari direktorat itu," kata Aqua.
Menurut Aqua, ini pelajaran yang sangat berharga terutama pada mereka yang mengalami mutasi. Sedangkan pada pejabat yang menggantikannya, agar belajar dari pengalaman pendahulunya sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama. Secara khusus Aqua mengapresiasi hasil kerja Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Mabes Polri Irjen Pol Syafruddin dan jajarannya yang dalam operasinya telah berhasil mengungkap berbagai kasus yang melibatkan para pejabat yang dicopot tersebut.
Harapannya, "pembersihan" di tubuh Polri itu terus dilakukan tanpa ada diskriminasi sehingga citra Polri jadi baik dan keberadaan institusi ini semakin dicintai masyarakat.
(fjp/fjp)










































