Infografis

Batu Akik di Tanah Kosong Cilandak, Berharga Atau Tidak?

- detikNews
Jumat, 02 Mei 2014 13:54 WIB
Batu Akik di Tanah Kosong Cilandak, Berharga Atau Tidak?

Bongkahan batu di tanah kosong di Jl Bango, Cilandak, Jaksel, diperebutkan masyarakat dari berbagai daerah karena diyakini bernilai tinggi. Pakar geologi Dr Hill Gendoet Hartono menganalisis sejumlah foto yang dikirim detikcom dari lokasi temuan batu tersebut. Setelah dua hari, dia membuat kesimpulan bahwa batu itu memang bisa dijadikan batu akik.

"Melihat foto-foto batuan tersebut tampaknya merupakan pecahan-pecahan dari bongkahan batuan beku yang telah mengalami proses ubahan atau alterasi yang menjadikan batuan asal mengalami kristalisasi ulang berupa mineral kuarsa/silikaan (SiO2 sekunder), dapat berwarna gelap hingga cerah, umumnya keras dan tajam," jelas pengajar di Sekolah Tinggi Teknologi Nasional ini.

Mantan pemimpin redaksi majalah Geologi Indonesia ini menambahkan, batuan itu memang bisa diolah jadi batu akik dengan warna yang beragam. Misalnya seperti kecubung, onik, opal dan sebagainya. Namun soal nilai, Hill tak menyebutkan berapa kisarannya.

"Seringkali terjadinya mineral atau batuan tersebut dihubungkan dengan proses akhir dari suatu kegiatan gunung api tua atau postvolcanism, sehingga batuan tersebut umumnya berumur sangat tua," jelasnya.

Geolog Dr Ir Sari Bahagiarti Kusumayudha MSc mengakui ada beberapa di antara batu itu yang masuk kategori batu berharga.

"Berdasarkan gambar yang ada, menurut pengamatan saya, di antara pecahan-pecahan batu tersebut memang sepertinya menunjukkan ciri-ciri sebagai batu berharga, atau batu bahan baku perhiasan/permata," jelas geolog yang akrab disapa Sari ini dalam surat elektroniknya kepada detikcom, Jumat (2/5/2014).

"Warnanya menarik, ada yang merah hati, merah jambu, biru, hijau, ungu, kuning, hitam, putih bening dll. harganya ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah," jelas Sari yang juga dosen sekaligus Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pembangunan Nasional (UPN) di Yogyakarta.



(mad/nrl)