Kamis (1/5/2014) sejumlah buruh angkutan bongkar muat kapal di Selat Panjang, Kabupaten Meranti Riau tak berpengaruh dengan aksi demo. Mereka malah terkesan tak peduli dengan hari yang dijuluki May Day itu.
Buruh angkutan barang di pelabuhan Selat Panjang, tetap menjalankan aktivitas kerjanya. Mereka tak mau ikut larut dalam aksi demo. Buat mereka, turun ke jalan sama saja tidak membuat dapur tetap mengepul.
Lebih baik bekerja banting tulang, ketimbang harus ikut-ikutan aksi yang tak jelas. Para buruh sejak pagi hari hingga siang, silih berganti melakukan bongkar muat barang dari kapal yang merapat di Selat Panjang.
"Kami tak maulah, nak ikut demo segala. Tak ada untung buat kita," kata Husin (45) salah seorang buruh yang ditemui detikcom di Selat Panjang.
Husin dan teman-teman seprofesinya, sejak pagi membongkar isi barang dari kapal KM Jaya Mulia. Kapal kayu itu membawa sejumlah sembako yang datang dari Pekanbaru.
"Untuk sekali bongkar seukuran kapal ini kami bisa menerima upah sekitar 3 Rp juta. Itu termasuk biaya untuk mengantar sampai ke gudang. Inilah yang kami bagi sekitar 12 pekerja," cerita Husin.
Mereka mengantar barang-barang dari kapal untuk diangkut ke gudang. Lokasinya hanya di sekitar pusat kota Selat Panjang. Barang-barang itu mereka angkut dengan gerobak roda dua yang ditarik dengan sepeda motor atau dengan orang langsung.
"Tak ada guna mau ikut demo. Lebih baik kita cari makan untuk anak istri," kata Husin.
Di kota Selat Panjang, memang sama sekali tidak ada pengaruhnya soal aksi demo May Day. Sedangkan sejumlah buruh di bagian pabrik tepung sagu, mereka sebagian diliburkan pihak pengusaha.
"Di tempat kita, ada 30 karyawan yang bekerja di pabrik sagu. Mereka tak ikut demo, hanya mereka memang libur," kata Amir (45) pemilik usaha tepung sagu itu.
(cha/mok)










































