Ayo, Ngomong Dong, Jenderal...

Suap Tank Scorpion (2)

Ayo, Ngomong Dong, Jenderal...

- detikNews
Kamis, 16 Des 2004 10:58 WIB
Jakarta - The Guardian memberitakan, proses jual beli mesin tempur tank Scorpion antara Alvis sebagai produsen dengan TNI terindikasi suap. Ini ditunjukkan adanya setoran Alvis kepada Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbaj Tutut, sebanyak 16,5 juta pound sterling sebagai komisi.Desakan agar pemerintah menyelidiki kasus ini segera menyeruak. Parlemen dan kalangan LSM meminta agar mereka yang terlibat proses pembelian tank Scorpion diperiksa. Selain Tutut, mereka yang layak dimintai keterangan adalah mantan Kasospol Jenderal (pur) R Hartono, dan mantan Kasum Letjen (pur) HBL Mantiri. Termasuk juga Panglima ABRI/TNI, Jenderal (pur) Feisal Tanjung dan KSAD Jenderal (purn) Edi Sudrajat.Nama lain yang disebut dalam Guardian adalah Rini Soewondho, pemilik PT Surya Kepanjen, rekanan lokal Alvis di Jakarta.Mereka yang disebut namanya itu agaknya merasa belum perlu menjelaskan kepada publik mengenai posisi masing-masing secara resmi. Kalau pun ada yang berbicara, itu tak sengaja kepergok wartawan dalam suatu acara.Seperti HBL Mantiri misalnya, dia berbicara mengenai kasus ini ketika ditemui di sela-sela acara sarasehan di Departemen Dalam Negeri (Depdagri), Selasa(14/12/2004). Dalam kesempatan itu Mantiri mengaku tidak tahu menahu soal suap yang diterima Mbak Tutut.Menurut Mantiri, keterlibatan dirinya sebatas berkunjung ke Alvis bersama Hartono. Tutut sendiri, sambung Mantiri, sudah tiba terlebih dahulu.Dijelaskan Mantiri, sebagai Kasum ABRI akhirnya ia tahu bahwa proses pembelian tank ini sudah dari 1992. "Karena saya tahun 1992 menjadi Pangdam IX Udayana saya tidak tahu menahu tentang proses pembelian tank Scorpion itu. Dan ketika saya pulang dari kunjungan ke Avis tersebut saya tidak tahu lagi proses selanjutnya karena saya sudah dicopot dari kasum."Ditanya tentang dugaan adanya uang suap yang diterima Tutut dalam pembelian tank Scorpion, Mantiri mengaku tidak tahu. "Saya tidak tahu. Tapi yang saya tahu itu adalah deal pengusaha dengan Avis, dan kemudian diajukan ke pemerintah," katanya.Hal yang sama disampaikan Hartono kepada Jawa Pos. Hartono mengaku dirinya diundang ke Inggris Juli 1994. Saat itu Hartono menjabat sebagai Kassospol ABRI. "Kalau ada yang tanya Kassospol kok diundang urusan tank, kedatangan saya bukan sebagai Kasosspol-nya, tapi sebagai orang kavaleri," jelasnya.Dia lantas bercerita, pada 1976, sepulang sekolah dari Amerika, ia ditempatkan di Dinas Litbang di Bandung. Saat itu pangkatnya masih letkol dan bertugas meneliti tank Scorpion buatan 1960 yang telah lebih dulu dimiliki Indonesia.Ketua Umum Partai Karya Peduli Bangsa ini, juga mengaku tak tahu menahu soal tuduhan uang pelicin buat Mbak Tutut. "Tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. Saya yakin, KSAD waktu itu, Pak Edi, juga tidak tahu," tukasnya.Setahu Hartono, usul pengadaan tank Scorpion itu memang datang dari KSAD, lalu selanjutnya jadi urusan Pangab dan Menhankam untuk pengadaan dana sampai penunjukan rekanan.Lalu bagaimana Mbak Tutut bisa muncul? "Wah ndak tahu. Saya kenal Tutut kan waktu sudah jadi KSAD, atau akhir-akhir jabatan Kassospol. Waktu itu (Juli 1994) saya benar-benar datang sebagai peninjau," jawabnya. "Makanya saya kaget wuih. Kalau betul 16 juta poundsterling, berapa miliar itu. Tapi gimana kalau tidak betul?" katanya balik bertanya.Sedangkan mantan-mantan pejabat yang berkompeten belum mau memberikan ketarangan. Panglima TNI dan KSAD waktu itu, Jenderal (pur) Feisal Tanjung dan Jenderal (pur) Edi Sudrajat tak gampang ditemui wartawan. Mungkin setelah dipanggil KPK untuk diklarifikasi, mereka baru akan bicara.Yang paling ditunggu adalah keterangan dari orang yang paling kuat mendapat sorotan, Tutut. Tapi, belakangan ini anak Pak Harto yang murah senyum itu tak muncul di publik. Bahkan pengacaranya pun tak tahu menahu soal ini. "Beliau (Tutut) sama sekali belum mengkonsultasikan masalah ini kepada saya. Saya juga belum pernah ditugasi mengurusi hal itu," kata pengacara Tutut, Amir Syamsudin. (diks/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads