Menyorot Kembali Laku Cendana

Suap Tank Scorpion (1)

Menyorot Kembali Laku Cendana

- detikNews
Kamis, 16 Des 2004 10:05 WIB
Jakarta - Kasus suap yang menyedot uang negara ini menyeruak dari pemberitaan harian The Guardian, koran terkenal di Inggris. Mbak Tutut, kata koran itu mengutip dokumen kesaksian eksekutif Alvis, Nick Prest, telah menerima 16,5 juta pound sterling dari perusahaan tersebut.Seperti bunyi pepatah lama 'ada udang di balik batu', begitu pula dengan setoran dari Alvis tersebut. Sebab, itu dilakukan untuk memuluskan transaksi penjualan 100 unit tank Scorpion, salah satu produk Alvis, senilai 160 juta pound sterling (sekarang sekitar Rp 2,8 triliun).Mengapa harus Tutut? Sepertinya Alvis saat itu paham sekali iklim sosial politik Indonesia di rezim Orde Baru. Mereka tahu siapa yang harus didekati agar semua urusan aman dan lancar. Cendana sepertinya menjadi pilihan yang terbaik.Singkat cerita, Tutut akhirnya datang ke London pada Februari 1994. Ia bertemu dengan Prest dan dua petinggi Alvis, Trevor Harrison dan Lionel Steele. Tutut mengaku mewakili perusahaan Global Select. Prest mengatakan, Tutut meminta Alvis menjadikan dirinya dan rekan bisnisnya sebagai perusahaan konsultan (dalam penjualan).Alvis akhirnya menandatangani perjanjian dengan Tutut pada 4 Mei 1994. Tentu disertai janji akan memberikan komisi untuk mantan Menteri Sosial itu atas 'bantuannya' pada penjualan tank Scorpion.Tutut kembali datang ke Inggris dua bulan kemudian, Juli 1994, dan mengunjungi pabrik Alvis di Coventry. Kali ini dia mengajak Letjend Hartono (Kasospol waktu itu) dan Letjen Jenderal HBL Mantiri. Nama lain yang disebut adalah Rini Soewondho, pemilik PT Surya Kepanjen, rekanan lokal Alvis di Jakarta. Tutut meyakinkan kedua jenderal itu agar membeli Scorpion, bukan tank yang lain.Bagaimana Alvis bisa berkenalan dengan Tutut memang masih belum jelas. Dokumen tersebut hanya mengungkapkan, bahwa para eksekutif Alvis telah berusaha bertahun-tahun untuk mendapatkan dukungan orang-orang berpengaruh yang dekat dengan pemerintahan dan militer RI.Memang tidak adil jika kita hanya menuntut penjelasan dari Tutut seorang. Sebab bukan tidak mungkin bukan hanya dia yang menikmati 'setoran' dari Alvis. Ya seperti diungkapkan tadi, para eksekutif Alvis telah bertahun-tahun berusaha mendapatkan dukungan orang-orang berpengaruh yang dekat dengan pemerintah dan militer RI.Siapa saja orang-orang berpengaruh yang 'dipakai' Alvis untuk mendekati Tutut?Memang seperti juga dituturkan dalam dokumen itu, keterlibatan Tutut adalah inisiatif Rini Soewondho dari PT Surya Kepanjen. Hal ini disebabkan TNI saat itu tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli tank, sehingga diperlukan dana dari Presiden alias 'on top budget'.Nah, untuk mendapatkan 'on top budget' ini , peran Tutut sebagai anak tertua presiden agaknya sangat diperlukan. Seperti dikatakan Rini dalam pengakuannya di persidangan gugatan Chan U Seek Vs Alvis, untuk mendapatkan dukungan Presiden Soeharto, diperlukan orang dalam.Chan U Seek sendiri adalah broker (perantara) perdagangan senjata di Singapura. Dia menggugat Alvis karena tidak membayar komisi dalam penjualan tank Scorpion itu. Alvis justru memberikan komisi kepada Tutut yang berperan sebagai konsultan.Hal ini merupakan bagian yang harus diungkap. Termasuk mengapa para pejabat tinggi militer dan pemerintah saat itu, seperti KSAD, Panglima ABRI dan Menhankam, akhirnya menyetujui pembelian Scorpion itu."Mereka semua yang terlibat dalam proses pembelian Scorpion harus dimintai keterangan agar semuanya jelas. Pemerintah jangan pasif, tapi harus menjemput bola," kata Lucky Jane dari Indonesia Corruption Watch (ICW).Selain beribu kasus korupsi lainnya, kasus ini agaknya bakal kembali menjadi batu ujian bagi aparat dan lembaga hukum Indonesia. Polisi, kejaksaan atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus bisa membuktikan Mbak Tutut dan yang lainnya tidak bersalah, atau sebaliknya dalam kasus ini. (diks/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads