Meski nanti menjalin koalisi, Ical mengatakan mereka berdua tetap calon presiden. "Tidak ada pembicaraan mengenai capres dengan Pak Prabowo. Saya tetap capres, Pak Prabowo tetap capres," kata Ical usai pertemuan.
Apabila keduanya tetap maju sebagai calon presiden, lalu bagaimana koalisi Golkar dengan Gerindra terjadi?
Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung mengatakan jika kedua partai tersebut menjalin koalisi, tentu harus ada satu calon yang mengalah. "Tentu salah satu saja yang menjadi calon presiden," kata Akbar saat berbincang dengan detikcom, Selasa (29/4/2014).
Pasalnya menurut dia dari sisi perolehan suara, baik Golkar maupun Gerindra tak mencapai Presidential Threshold. Sehingga kedua partai mitra koalisi untuk mengusung capres dan cawapres.
Akbar menyebut koalisi Golkar dengan Gerindra bisa saja terjadi setelah proses pemilihan presiden selesai. "Bentuknya nanti kerjasama di pemerintahan, yang kalah mendukung yang menang nanti di pemerintahan," kata pria yang juga mantan Ketua Umum Partai Golkar ini.
Pernyataan Akbar senada dengan pendapat Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari. Menurut Qodari kesepahaman Golkar dengan Gerindra lebih kepada kerjasama di pemerintahan. Koalisi yang dibangun diprediksi akan berlangsung setelah Pilpres.
"Mungkin komitmennya kalau salah satu menang akan ajak yang lainnya di pemerintahan," kata Qodari.
Sementara pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio memprediksi bakal ada 3 opsi koalisi antara Gerindra dan Golkar. Pertama, Gerindra dan Golkar tetap bertarung di Pilpres tapi akan berkoalisi di kabinet bila salah satu menang di Pilpres.
"Hal ini pernah dilakukan Golkar di 2004, saat JK bertarung di Pilpres bersama SBY dan akhirnya Golkar merapat ke Demokrat di kabinet," kata Hendri saat dihubungi terpisah.
Opsi kedua, Gerindra dan Golkar tetap bertarung di Pilpres namun koalisi untuk putaran kedua Pilpres setelah salah satu "kemungkinan besar" tereliminasi. "Ini seperti 2004 saat Golkar merapat ke JK di putaran kedua yang saat itu maju bersama SBY," katanya.
"Kemungkinan ketiga yang kecil terjadi adalah koalisi Gerindra-Golkar dengan meminta capres dari Gerindra dan cawapres dari Golkar," pungkasnya.
(erd/mok)











































