Pada Selasa 20 Maret 2012 lalu, Dahlan mengamuk di pintu tol dekat Jembatan Semanggi menuju arah Slipi. Penyebabnya, antrean di tol tersebut sangat panjang tetapi loket yang dibuka hanya dua dari empat pintu yang ada.
Melihat antrean yang panjang itu, menurut Kepala Bagian Humas dan Protokol Kementerian BUMN Faisal Halimi, Dahlan yang hendak berangkat rapat koordinasi setiap Selasa ke Kantor PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) itu langsung turun dari mobil. Saat itu antrean sepanjang kurang lebih 30 mobil di depan pintu tol.
"Ini bertentangan dengan instruksinya agar antrean paling panjang lima mobil," kata Faisal.
Dahlan langsung turun dari mobil dan memeriksa. Di situlah Dahlan melihat, dua loket masih kosong, dan hanya satu loket manual dan satu otomatis yang dibuka. Dahlan pun masuk ke dua loket yang tutup itu dan membuang kursi yang ada di dalam. Lalu ia masuk loket satunya untuk juga membuang kursinya.
"Tidak ada gunanya kursi ini," kata Faisal menirukan ucapan Dahlan.
Ia mengatakan, lebih dari 100 mobil disuruh lewat begitu saja tanpa bayar. Salah satu pemilik mobil yang sedang lewat itu ternyata mengenal Dahlan dengan baik. Dia adalah Emirsyah Satar, Direktur Utama Garuda.
Aksi Dahlan kembali terulang pada Minggu 29 April 2012. Dia emosi karena macet parah di pintu tol Kuningan 2. Tepat di depan RS Medistra, Dahlan yang tengah menuju Tanjung Priok harus membuka paksa gerbang tol tersebut agar lancar.
Di Bandung, wali kota muda Ridwan Kamil juga pernah dibuat kesal. Kala itu, pada Kamis 30 Januari 2014, dia sedang blusukan naik sepeda ke daerah Cicadas. Di dekat pos polisi, dia kesal karena melihat tumpukan sampah. Di depannya, sampah menumpuk dan berserakan sepanjang 3 meter.
Didampingi Camat Cibeunying Kidul, Deny Sani, Emil yang mengenakan blazer dan celana jins biru ini meneruskan langkah ke seberang jalan. Terlihat dari raut mukanya, Emil tambah kesal. Yang ia temukan bukan hanya sampah biasa, melainkan kasur bekas hingga kursi rusak.
"Saya carikan uangnya, jangan menunggu PD Kebersihan," kata Emil kepada camat dan lurah setempat.
Kemudian Emil yang masih mengenakan helm berwarna putih itu meminta stafnya untuk memanggil petugas sampah di dekat lokasi. Saat ditanya, petugas sampah yang bernama Risman membuat pengakuan mengejutkan.
"Ini (yang membuang sampah) bukan hanya warga saja Pak, tapi petugasnya juga yang suka buang sampah ke sini, bukan ke TPS. Petugasnya bandel," ujar Risman.
Emil melongo. Sebelum meninggalkan lokasi, ia menelepon Camat Kiaracondong. "Pak Camat, ini gimana ada tumpukan sampah di depan eks Matahari. Besok menghadap saya ya," pinta pria berkacamata ini.
Emil berlalu. Dengan sepeda birunya, ia menuju lokasi acara HIPMI, Jl Talaga Bodas. "Ini sekalian saja sampai ke tengah jalan," kata Emil kesal saat melihat sampah-sampah berserakan.
(mad/nwk)











































