"Waktu itu saya kepala BIN, sedang maraknya bom dan terorisme. Lalu ada yang menawarkan kepada kami untuk pembuatan buku dan kamus bahasa Arab, Inggris dan Indonesia sekaligus," ujar Hendro usai diperiksa penyidik KPK, Selasa (29/4/2014).
Pihak yang menawarkan kamus tersebut, kata Hendro, adalah Attabik Ali. Menurut Hendro, kala itu pengadaan kamus dan buku perlu dilakukan untuk memberikan bantuan ke pesantren-pesantren.
"Dan saya (BIN) beli kamus itu. Itu operasi penggalangan," kata Hendro yang mengenakan kemeja warna putih ini.
Menurut Hendro, BIN memberikan syarat kepada pihak pesantren yang menerima bantuan kamus dan buku tersebut, yakni tidak boleh memperdagangkan literatur itu. Mengenai harga kamus yang ditawarkan Attabik Ali, Hendro memastikan harganya paling murah saat itu.
"Saya lupa karena sudah 10 tahun lalu, tapi itu harga wajar untuk kamus. Untuk pengadaannya sekitar Rp 100 ribu," ujar Hendro.
Attabik adalah pengasuh di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Hendro pernah bertemu langsung dengan Attabik salah satunya pada saat pembagian kamus dan buku di Krapyak.
"Tapi saya lupa bagaimana mukanya. Sekarang kan sudah 10 tahun," kata Hendro.
(fjr/ndr)











































