"Saya tidak lolos. Dapil saya adalah dapil neraka karena hanya ada 6 yang lolos," kata Taufik di kantor DPP NasDem, Jalan RT Suroso 44, Gondangdia Lama, Jakarta Pusat, Senin (28/4/2013).
Dapil Jakarta I meliputi Jakarta Timur yang memperebutkan 6 kursi. Taufik yang duduk di nomor urut 1 ini bersaing dengan 5 caleg dari NasDem lainnya. Mereka adalah Raphy Uli Tobing, Salim Syihab, Bambang S Syukur, Maria A Wardhanie, dan Faisal Yusuf.
Meski tak lolos, Taufik mengaku dirinya merasa bersyukur. Sebab dia telah berhasil melalui tahapan pileg tanpa menggunakan politik uang dan bahkan ikut mengajak masyarakat untuk melawan praktik-praktik kecurangan.
Mantan Direktur YLBHI ini mengaku memiliki catatan adanya 3 pola kecurangan yang terjadi di dapilnya. Pertama, Taufik menyebutnya sebagai pola tradisional yakni dengan membagi-bagikan uang, sembako, atau barang-barang lain secara langsung.
Pola kedua adalah membuat kontrak politik dengan warga terkait dengan material. Menurut penelusurannya, janji material cukup efektif menggiring suara kepada caleg tertentu tanpa melihat kualitas caleg. "Dasar pertimbangan hanyalah materi. Menurut saya sudah luar biasa. Akhirnya yang terjadi tidak fair," tuturnya.
"Contoh di dapil saya adalah ada caleg yang menjanjikan ambulans jika dia terpilih. Dan hal ini sempat menjadi tren kemarin," imbuh Taufik.
Pola ketiga adalah serangan fajar. Dia pun menyayangkan tidak ada perlawanan cukup dari masyaraka terhadap praktik ini.
Menurutnya, praktik ini sudah dilancarkan setidaknya 2-3 hari sebelum pemungutan suara. Peredaran uang di masa tenang begitu parah, dilakukan secara terbuka tanpa ada perlawanan dari para pemilih.
"Saya di hari terakhir pemilu membuat spanduk mengimbau warga untuk menangkap tangan para pelaku serangan fajar tetapi tak efektif. Tim saya bersama warga sempat menangkap 2 orang di Kelurahan Kebon Pala dan Cipinang. Cuma dari sekian informasi yang kita terima hanya sedikit yang kita tangkap tangan," ulasnya.
Ketika ditanyai wartawan apakah dirinya akan melaporkan temuan-temuannya ini, Taufik menilai hal ini masih membutuhkan bukti serta kesediaan masyarakat sebagai penerima uang 'panas' untuk menjadi saksi.
"Saya masih akan fokus mengumpulkan bukti kecurangan-kecurangan di dapil saya dulu. Dan saya akan tetap melanjutkan advokasi, mengubah tatanan demokrasi yang transaksional menjadi lebih berintegritas. Lebih memperjuangkan hak-hak korban HAM, demi indonesia yang lebih baik," kata Taufik.
(sip/nrl)











































