"Teman-teman harus sadar. Boleh dapat 7 persen lebih, tapi kalau salah mengelola ya sudah. 7 persen itu tidak cukup melawan parpol lain," ujar Muqowam dalam acara diskusi 'SBY dan Mega Penentu Arah Koalisi?' di Founding Fathers House, Kebayoran Baru, Senin (28/4/2014).
Dia menyebut kalau konflik internal partainya bisa berdampak buruk terhadap citra parpol untuk berkoalisi dengan parpol lain. Meski sudah islah, dia khawatir akibat konflik internal ini masih menyisakan amarah di antara beberapa pihak yang bertikai ini.
"Dengan Golkar tidak jadi kawan, Gerindra tidak dilirik, PDIP juga. Jangan sampai seperti itu karena konflik internal ini takutnya akan membawa yang akhirnya bukan pilihan siapa-siapa. Kalau terjadi seperti itu, saya warning ke DPP betul-betul. Atas nama konflik di dalam, tetap saja ini kan jadi bara," kata mantan Ketua Komisi IV DPR itu.
Muqowam menilai agar ada harapan untuk terus berkiprah di kancah politik, PPP mesti memiliki kebijakan yang searah sebagai satu parpol. Bukan mengatasnamakan pernyataan individu yang berpotensi memecah belah kondisi internal partai. Menurutnya, dinamika parpol yang produktif adalah bisa mengedepankan kerangka idealistik partai.
Disinggung konflik internal merupakan settingan internal partai, Muqowam menepisnya. Menurutnya, mulai dari manuver Ketua Umum Suryadharma Ali saat kampanye terbuka Gerindra hingga kehadiran Ketua Majelis Syariah PPP KH Maimun Zubair dalam konflik islah bukan kejadian yang disengaja.
"SDA melalui kebijakan pribadi mendukung Gerindra saat kampanye. Kemudian direspon oleh DPW, DPD hal itu bisa akan luntur. Untung ada mbah Mun (Ketua Majelis Syariah PPP KH Maimun Zubair) di konflik kemarin. Kalau enggak ada, sudah gawat PPP," sebutnya.
(hat/erd)










































