"Dalam politik itu segala kemungkinan, tidak ada teman yang abadi, tidak ada lawan yang abadi," kata Ketua DPP Gerindra, Pius Lustrilanang, kepada detikcom, Minggu (27/4/2014).
Menurut Pius yang pernah menjadi korban penculikan Tim Mawar menjelang kejatuhan Soeharto, setiap pemimpin harus berjiwa besar. Melupakan masalah masa lalu demi kepentingan bangsa yang lebih besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prabowo dan Wiranto menggelar pertemuan rahasia di kediaman Wiranto di Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (23/4) lalu. Pertemuan bawahan dan atasan di era 1998 ini sangat menarik. Jenderal (Purn) Wiranto yang kala itu menjabat Pangab konon punya hubungan tak harmonis dengan Letjen (Purn) Prabowo yang kala itu menjabat Pangkostrad.
Wajar saja muncul spekulasi soal islahnya dua jenderal ini. Mengignat pertemuan ini tak hanya membuka pembahasan peluang koalisi Gerindra-Hanura, tapi ada hal lain yang lebih penting. Yakni sinyal kuat dua jenderal yang pernah berseberangan di era jatuhnya Presiden Soeharto ini islah alias rukun kembali.
Seperti apa sebenarnya kisah Prabowo-Wiranto di era jatuhnya Presiden Soeharto? Mungkinkah keduanya islah? Ikuti ulasan detikcom selanjutnya.
(van/nrl)











































