Wajah mereka tampak terlihat lelah, goresan hitam akibat terpaan asap menghiasi wajah para petugas berbaju oranye itu. Mata merah dan peluh mengucur di wajah mereka yang memerah.
Kebakaran kali ini memang membutuhkan penangan super ekstra. Lebih dari 40 mobil pemadam kebakaran, tiga unit water canon dan dua helikopter diterjunkan untuk memadamkan api. Puluhan petugas damkar, polisi dan warga sekitar berjibaku dengan api dan waktu.
Daryat, salah satu petugas damkar yang sejak pukul 04.30 WIB tadi turun ke lokasi terlihat duduk berselonjor di pojokan pasar. Tangannya mengipas-ngipas wajah yang terlihat kepanasan.
"Ngaso dulu, sudah dari tadi soalnya," kata dia saat berbincang dengan detikcom di lokasi, Jumat (25/4/2014) pukul 18.00 WIB.
Dayat mengaku pemadaman kali ini merupakan pemadaman terbesar yang pernah diikutinya. Api yang melahap ribuan kios sulit sekali dijinakkan.
"Agak susah menerapkan strategi di Pasar Senen ini, terlalu banyak bahan tekstil dan struktur bangunan yang sudah tua membuat bangunan menjadi miring dan gampang roboh," katanya sambil menatap ke arah bangunan yang hangus terbakar.
Sama halnya dengan Daryat, Santos petugas yang sejak 2004 bergabung dengan pemadam kebakaran Jakarta Pusat ini mengaku kesulitan memadamkan api. Lokasi pasar yang padat dan tertutup menjadi kendala para petugas dalam menjalankan aksinya.
"Dibandingkan medan yang lain, kali ini berat karena medannya tertutup dan gelap," ucap Santos sambil meluruskan kakinya.
Santos mengaku kendala lain adalah air yang sulit didapat. Petugas kesulitan mendapatkan sumber air karena jalanan yang dilalui oleh mobil pemadam harus membelah lautan kemacetan dan menempuh jarak yang lumayan jauh.
"Mengambil airnya dari Kali Ciliwung di Kwitang, agak jauh jadinya," ucap Santos.
Lelah yang datang tak dihiraukan para petugas penjinak api ini. Kondisi pasar yang becek dan bau bukan halangan bagi mereka untuk tetap semangat menjalankan tugas. Hingga Jumat pukul 19.15 WIB api masih terlihat di lantai 3 pasar, petugas masih terus berusaha melumpuhkan api yang melalap pasar yang berumur ratusan tahun itu dan menghayati slogan kerja mereka 'Pantang pulang sebelum padam'.
(slm/nwk)










































