Kisah Politisi Tenar Dilibas Serangan Fajar

Kisah Politisi Tenar Dilibas Serangan Fajar

- detikNews
Kamis, 24 Apr 2014 15:09 WIB
Kisah Politisi Tenar Dilibas Serangan Fajar
Jakarta - Sejumlah politisi beken diperkirakan gagal melenggang ke gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Selain tenar mereka juga merupakan legislator petahana alias incumbent. Wakil Ketua DPR yang juga politisi Partai Golongan Karya Priyo Budi Santoso terancam gagal ke Senayan.

Nasib yang sama juga dialami politisi beken lainnya, seperti Eva Kusuma Sundari dari PDI Perjuangan, Nurul Arifin dari Partai Golkar, Nova Riyanti Yusuf dari Partai Demokrat dan Ahmad Yani dari Partai Persatuan Pembangunan. Mengapa mereka bisa gagal?

Kepada detikcom Eva Kusuma Sundari mengaku salah satu penyebab kegagalannya adalah akibat adanya serangan fajar dari politisi lain. Politisi kelahiran 8 Oktober 1965 itu mengklaim sering 'blusukan' ke sejumlah pelosok di daerah pemilihan Jawa Timur VI.

Namun serangkaian upaya itu tak bisa mengantarkan dia kembali menduduki kursi di DPR RI. Eva itu tak sanggup melawan serangan fajar dari politisi lain yang nilainya hanya Rp 25 sampai Rp 50 ribu per amplop. "Istilahnya (di masyarakat) tak lagi one man one vote, tapi one envelope one vote," kata perempuan yang meraih gelar S-2nya di Economics and Development Economics, Faculty of Ekonomics, University of Nottingham, Inggirs itu.

Sementara Nova Riyanti Yusuf mengaku meski tak melihat secara langsung adanya serangan fajar, namun semasa kampanye dia mengalami sendiri perilaku money politic di kalangan warga. Politisi yang akrab disapa Noriyu itu berada di dapil yang sama dengan Eva Kusuma Sundari.

Noriyu mengaku, saat berkunjung ke sebuah daerah terpelosok seorang Ibu-ibu secara terang-terangan meminta uang. "Jadi saya kalau perkenalkan ibu, ibu sangunya (uang) berapa?" tanya si Ibu tersebut seperti diceritakan kembali Noriyu kepada detikcom.

Politisi Partai Amanat Nasional Taufik Kurniawan mengakui gencarnya praktik money politic melalui serangan fajar pada pemilihan tahun ini. "Money politicnya mengerikan. Semuanya jor-joran demi kepentingan kekuasaan. Kalau saya memilih mengutamakan kewajiban substansial jadi tidak didasari atas dasar pragmatisme Rp 50 ribu," kata Taufik yang sempat ketar-ketir karena posisinya belum aman di dapil Jawa Tengah VII.

Pandangan senada disampaikan politisi Partai Golkar Bambang Soesatyo yang juga maju dari dapil Jateng VII. Menurut Bambang, caleg baru jor-joran untuk meraih kursi di DPR.

"Money politic pada pemilu kali ini saya akui luar biasa. Terang-terangan sekali. Aparat tidak berdaya. Saya keluarkan pengumuman sayembara di koran lokal bagi yang menangkap tangan pelaku money politic dapat hadiah Rp 5 juta pun, nggak laku," kata Bambang.

Caleg baru dan partai baru menurut dia seperti kalap untuk dapat kursi. Mereka pun rela mengeluarkan puluhan miliar rupiah agar bisa terpilih. "Jangan ditanya lagi, soal partai-partai baru. Mereka seperti tidak percaya diri. Mereka tebar ribuan amplop agar dipilih. Yang kalem, justru partai lama seperti PDIP, Golkar dan PPP. Caleg PAN, Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan juga pusing. Posisinya hingga kini belum aman," kata Bambang.


(erd/rmd)


Berita Terkait