Tentu masih lekat di ingatan para pengurus PPP saat Suryadharma hadir ke kampanye Gerindra di GBK pada 23 Maret lalu. Suryadharma saat itu tampak gagah berdiri di samping Prabowo mengenakan jas hijau PPP dan kaca mata hitam. Dia tak sendiri, ada Djan Faridz dan Muhammad Nur Iskandar yang menemani.
Suryadharma tak hanya hadir, dia juga berpidato dalam kampanye partai berlambang kepala burung Garuda itu. Dengan lantang dia mengelu-elukan nama Prabowo. Tak cukup sampai di situ, Menteri Agama ini juga menyatakan cinta ke Prabowo.
"Gerindra telah memutuskan calon pemimpin yang tepat. Saya makin jatuh cinta pada Pak Prabowo! Satu presiden untuk Indonesia Raya, presiden untuk kaum papa, untuk wong cilik, untuk nelayan, dan satu yang tak bisa dilupakan adalah presiden para kiai," kata Suryadharma waktu itu.
Seolah Suryadharma ingin memposisikan PPP sebagai partai pertama yang merapat ke capres Gerindra Prabowo Subianto. Manuver politik Suryadharma menuai perlawanan dari kubu Emron Pangkapi, Suharso Monoarfa, dan lainnya yang menggulirkan penggulingan Suryadharma. Kisruh ini berbuntut pemecatan sejumlah pengurus termasuk Waketum Suharso Monoarfa dan Sekjen Romahurmuziy.
Kubu Romahumurmuziy pun tak tinggal diam, mereka menggelar Rapimnas dan mengagendakan Mukernas untuk mengevaluasi kepemimpinan Suryadharma. Beruntung Majelis Syariah PPP menengahi konflik dua kubu ini. Namun Suryadharma harus menerima keputusan pahit, Majelis Syariah menganulir semua keputusan soal koalisi dengan Gerindra dan pemecatan elite PPP.
Setelah bertemu, kedua pihak akhirnya sepakat Islah. Suryadharma pun diundang ke Mukernas PPP untuk menyelesaikan persoalan. Namun persoalan tak selesai begitu saja, masih banyak elite PPP yang mendorong agar Muktamar PPP dipercepat untuk memilih ketua umum baru pengganti Suryadharma.
Mungkin karena tak nyaman dengan situasi di Mukernas, Suryadharma sungkan hadir di arena Mukernas pada Rabu kemarin. Setelah didorong banyak elite PPP, Suryadharma akhirnya memutuskan hadir ke arena Mukernas PPP di Hotel Seruni III, Cisarua, Bogor, Kamis (24/4/2014).
Tapi Suryadharma sudah tak segagah seperti saat di panggung kampanye Gerindra akhir Maret lalu. Dia hadir tanpa jas hijau. Duduknya pun dipojok, seperti orang asing. Tak ada sambutan dari pengurus PPP mengelu-elukan namanya.
Lalu bagaimanakah kelanjutan drama kisruh internal PPP ini, bagaimana nasib politik Suryadharma Ali ke depan, apakah dia benar-benar akah kehilangan jas hijau kehormatan Ketum PPP?
(trq/van)











































