Toh Eva tak mau jemawa saat tahun ini kembali maju sebagai calon anggota legislatif dari daerah pemilihan Jawa Timur VI, yang wilayahnya meliputi Kabupaten Blitar, Kediri, Tulungagung, Kota Blitar, dan Kota Kediri. Jauh sebelum hari pemungutan suara dia sudah 'blusukan' ke daerah-daerah pelosok di dapilnya.
Tak kurang 80 desa dia kunjungi. Berdialog dan menyerap aspirasi warga. Saat berinteraksi dengan warga itulah Eva harus menghadapi kenyataan minimnya pengetahuan masyarakat akan demokrasi. Secara terang-terangan warga meminta uang jika seorang politisi ingin dipilih.
Eva berusaha memberi pengertian kepada mereka bahwa pilihan politik mereka tak semestinya diperjual belikan, karena akan menentukan masa depan bangsa lima tahun ke depan. Toh petuah perempuan yang meraih gelar S-2nya di Economics and Development Economics, Faculty of Ekonomics, University of Nottingham, Inggirs, 2000 itu tak dituruti oleh warga.
"Saya mengerti, dan saya keliling tidak dengan tangan kosong. Saya sumbang pompa air, tenda, semen untuk fasilitas umum," kata Eva saat berbincang dengan detikcom, Kamis (24/4/2014).
Namun nyatanya aneka sumbangan dan kunjungan Eva itu tak sanggup melawan serangan fajar dari politisi lain yang nilanya hanya Rp 25 sampai Rp 50 ribu per amplop. "Istilahnya (di masyarakat) tak lagi one man one vote, tapi one envelope one vote," kata Eva.
(erd/van)










































